[Kaya Indonesiaku #1] LAMPU ITU BUKAN TUGU

Sumber

Dear Stemian,

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik, Indonesia memiliki 129.281.079 unit kendaraan bermotor di tahun 2016. Terbagi atas 105.150.079 unit sepeda motor, 7.063.433 unit mobil barang, 2.486.898 unit mobil bis, dan 14.580.666 unit mobil penumpang.

Jumlah yang tidak sedikit bukan. Apalagi di tahun 2018 ini jumlah tersebut dapat dipastikan meningkat. Dilihat dari semakin banyak dan besarnya kebutuhan individu atau kelompok terhadap kendaraan bermotor.

Berdasarkan jumlah tersebut tidak jarang kota-kota besar di Indonesia mengalami kemacetan. Layaknya DKI Jakarta, Medan, dan beberapa jajaran kota lainnya yang tidak ingin ketinggalan. Meski belum separah Dubai sebagai daerah terpadat dan termacet di dunia, namun pemerintahan Indonesia kewalahan menangani kasus ini dilihat dari belum banyaknnya perubahan atas kemacetan yang terjadi.

Selain masalah kemacetan, Indonesia juga mendapatkan deretan masalah lainnya yang tidak bisa di pandang sebelah mata, yaitu angka kecelakaan tinggi, parkir liar dan pungutan liar. 😀 (seperti di dalam rimba saja yaa, ada liar-liarnya)

Meneropong lebih jauh, sebagai makhluk yang diberikan keistimewaan akal dan pikiran tidak cukup hanya berhenti pada masalah (kemacetan dan tingginya angka kecelakaan) yang dihadapi. Bermula sebuah masalah karena ada sebabnya, layaknya tidak ada asap jika tidak ada api.

Selain meluapnya jumlah kendaraan yang ada. Penyebab lain kemacetan dan tingginya angka kecelakaan adalah tidak sadarnya para pengendara bermotor akan rambu-rambu lalu lintas. Secara pengetahuan semua tahu bahwa lampu merah tandanya berhenti, kuning hati-hati, dan hijau silahkan jalan. Namun mereka tidak sadar, yang dibutuhkan bukalah hanya mengetahui tapi butuh juga menyadari serta mematuhi.

Banyak yang menganggap jejeran lampu tiga warna itu hanya penghias di jalan raya bagaikan tugu di sebuah taman. Ya, sepertinya istilah itu lebih cocok “lampu yang dianggap sebagai tugu”. Padahal sebenarnya ia berdiri untuk membantu agar tidak terjadi kesalahpahaman yang berujung dengan kecelakaan. Makna lain yang dapat diamati, jika lampu itu beridiri pada satu persimpangan maka masyarakat seputaran persimpangan itu saja yang harus menaati, misalnya ada lampu tiga warna persimpangan Pabrik A maka yang wajib menaati hanyalah karyawan serta buruh pabriknya saja. 😀 (jadi harus pasang lampunya setiap rumah biar semua menaati, hehe)

Berbicara perkara lampu ini, tidak lengkap tampa satu kisah berikut:
Dipersimpangan kota, ada seorang pengendara motor menggunakan atribut lengkap (helm, spion, dan lain-lain) yang kemudian menerobos lampu merah.
“Priiiiiiiit” suara peluit panjang dari seorang polisi menghambat sepeda motor yang menerobos lampu merah tersebut. Segera polisi tersebut mendekat dan bertanya.
“SIM?” tanya Polisi.
“Ini pak” jawab pengendara motor tersebut
“STNK?” lanjut Polisi.
“Ini pak” menjawab singkat.
“Kamu lengkap, lantas kenapa menerobos lampu merah?” Kembali Polisi bertanya.
Dengan tidak merasa bersalah pengendara motor tersebut menjawab “Hehe. Saya nggak lihat ada bapak”. :v (wkwkwk)

Hal itu juga menjadi PR untuk kita semua, ketika yang diakuti pengendara motor adalah ditilang polisi daripada nyawa sendiri dan keselamatan orang lain ketika menerobos lampu merah.

Lantas apa yang harus kita lakukan selain berharap kepada kebijakan-kebijakan yang diambil pemerintah, mulai dari pembangunan jalan tol, kerja polisi yang harus semakin keras, perluasan jalan, dan menambah atribut lalu lintas. Sebenarnya ada banyak yang dapat kita perbuat sebagai pengguna fasilitas umum termasuk rambu-rambu lalu lintas. Mulai dari menyadari pengtingnya menjaga keselamatan diri kita dan pengendara lain. Patuhi setiap rambu-rambu yang dipasang, karena rambu-rambu dan lampu itu bukan tugu. Kemudian bersabar ketika ada kemacetan, tidak saring dahulu mendahului. Perhatikan juga keselamatan pejalan kaki, jangan trotoar dijadikan solusi untuk menerobos kemacetan, dan masih banyak lagi tentunya yang harus diperhatikan serta perlahan kita rubah.

“Indonesia adalah negeri kaya. Kaya akan alam, budaya, bahasa, dan keragamannya. Namun, Indonesia juga kaya akan masalah. Oleh karena itu, marilah perbaiki diri kita dan jadilah satu solusi dari ribuan masalah yang dimiliki Indonesia”.

Salam Stemian


NOTE:

Tulisan ini dibuat untuk menegur dan mengingatkan diri penulis sacara pribadi dan pengendara motor lainnya yang belum menyadari pentingnya menaati rambu-rambu lalulintas. Semoga bermanfaat. Terimakasih. 🙂