[Mutiara Hikmah #6] RACUN HATI

[Sumber Gambar](https://www.google.co.id/search?q=racun+hati&client=ms-android-huawei&prmd=ivn&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=0ahUKEwiW_Pj8wsPcAhXCRo8KHeUqBp0Q_AUICigB&biw=320&bih=454#imgrc=yDYtIyRJ5mQmOM:)

Dear Stemians,

Hati adalah segumpal daging yang apabila segumpal daging itu baik maka baiklah seluruh tubuh ini. Sebaliknya, apabila segumpal daging itu buruk maka buruklah seluruh tubuh ini.

Ada banyak makna kata ‘ hati ‘, diantaranya orang-orang sains mengartikan hati sebagai organ yang berfungsi menyaring racun di dalam tubuh. Sedangkan orang-orang sosial mengartikan hati sebagai alat perasa yang berfungsi mengontrol rasa yang ada di dalam tubuh. Berdasarkan hal itu maka timbullah beberapa istilah seperti ‘ jatuh hati ‘, ‘ sakit hati ‘, ‘ luka hati ‘, ‘ obat hati ‘, dan yang akan sedikit kita kupas pada kesempatan kali ini ‘ racun hati ‘.

Jika obat hati sebelumnya telah kita ketahui melalui senandung yang dilantunkan penyanyi religi ‘ opick ‘. Maka kali ini kita akan mengetahui penyebab hati itu teracuni. Ada istilah yang mengatakan lebih baik mencegah dari pada mengobati.

# Banyak Berbicara
Racun hati yang pertama adalah banyak berbicara. Sebagai makhluk sosial, melalui berbicara manusia melakukan interaksi. Dengan berbicara mampu membuat satu individu dengan individu lainnya saling mengenal. Dan, melalui berbicara jualah mampu terbentuk sebuah kesepakatan, kesimpulan, bahkan keputusan.

Namun, apabila berbicara ini terlalu banyak dilakukan maka timbullah istilah gosip. Membicarakan keburukan orang lain, membicarakan hak yang tidak seharusnya. Hal ini lah yang sedikit demi sedikit menjadi racun bagi hati. Tanpa kita sadari setiap hari kita selalu berbicara, berbicara, dan berbicara. Hasilnya terkadang yang kita bicarakan bukanlah hal yang bermanfaat.

Berdasarkan hal itu maka timbullah istilah “berbicara itu perak dan diam itu emas”.

Sudah kodratnya manusia melakukan sesuatu yang membuat hatinya senang. Unjuk kesenangan hati dapat dilihat dari tawa. Turunan dari banyak berbicara yang mampu meracuni hati bahkan membuat hati mati adalah banyak tertawa. Oleh karena itu, marilah kita gunakan kemampuan berbicara kita ini sebaik-baiknya sehingga mencegah kita meracuni hati kita sendiri.

# Banyak Makan
Racun hati selanjutnya yang tidak kita sadari adalah banyak makan. Dalam sebuah hadist dinyatakan bahwa perut manusia itu dibagi akan tiga. Seperiga berisikan makanan, sepertiga berisikan minuman, dan sepertiga lagi berisikan udara atau nafas.

Rasulullah menganjurkan, makanlah sebelum lapar dan berhentilah sebelum kenyang.

Hal tersebut dianjurkan karena apabila seseorang telah makan terlalu banyak makanan maka akan timbul dalam dirinya sifat malas. Malas karena kekenyangan makanan, bawaannya ingin tidur melulu. Banyak makan mengakibatkan banyak tidur, hari-hari hanya dihabiskan dengan makan dan tidur. Hasilnya perlahan hati kita mulai lelah memproses dan menyaring racun yang masuk ke dalam tubuh kita karena tidak diberikan waktu untuk beristirahat. Atau, secara halus kita telah meracuni hati kita sendiri dengan sesuatu hal yang kita anggap itu nikmat.

# Banyak Melihat
Selanjutnya, racun hati yang juga paling sering dilakukan adalah banyak melihat sesuatu yang telah dilarang. Mata memang diciptakan untuk melihat keindahan dan kekuasaan Allah SWT. namun, Allah membatasi mata kita dalam melihat sesuatu. Mata kita dilarang melihat aurat lawan jenis, melihat film porno, dah sejenisnya. Oleh karena itu ada istilah ‘ jagalah pandanganmu atau tundukkanlah pandanganmu ‘.

Banyak melihat sesuatu yang tidak sewajarnya perlahan membuat kita ketagihan dan rasa ketagihan itulah yang menjadi tetesan racun hitam di dalam hati kita. Setitik demi setitik perlahan-lahan seluruh hati kita menjadi hitam dan mati oleh ulah racun.

# Banyak Bergaul
Salah satu obat hati yang dilantunkan dalam bait senandung lagu opick adalah berkumpul dengan orang-orang sholeh. Kembalikannya, yang menjadi racun dalam hati kita adalah berkumpul dengan mereka yang membuat kita lalai akan kewajiban. Contoh sempurnanya adalah ketika melaksanakan buka bersama di Bulan Ramadhan. Ketika asik berkumpul dan bergaul di waktu berbuka membuat kita lalai melaksankan sholat magrib berjamaah. Ditambahl lagi, oleh ulah rasa tidak enak dengan teman sholat tarawihpun ditunda atau bahkan ditinggalkan. Miris bukan, kita meracuni hati kita sendiri dengan sengaja.

Sahabat stemian, itulah kiranya racun yang selama ini sering kita tabur, rawat, pupuk, serta kita panen dalam hati kita. Hingga tanpa kita sadari hati kita telah mati. Tidak dapat merasakan hal yang sepatutnya kita rasakan.

Oleh karena itu, marilah sejenak kita lihat diri kita racun mana yang sering kita tabur. Dan perlahan mulai mengurangi hingga berhenti menaburnya. Menggantinya dengan obat yang mampu membuatnya bersih lagi sici kembali.


NOTE : tulisan ini dibuat untuk menegur diri penulis secara pribadi dan mengingatkan pembaca secara umum. Semoga bermanfaat. Terimakasih.

[Mutiara Hikmah #5] Motivasi Skripsi

[Sumber Gambar](https://www.google.co.id/search?q=motivasi+skripsi&client=ms-android-huawei&prmd=inv&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=0ahUKEwiolZDq1prcAhUHsI8KHa_bDKgQ_AUICigB&biw=320&bih=454#imgrc=KEk_AXVo8SiSCM:)

Dear Stemians

Sebagai mahasiswa tingkat akhir sering merasakan tidak semangat atau kehilangan semangat dalam menggarap skripsi. Banyak faktor yang menyebabkan hal itu terjadi. Berikut 7 hal yang bisa membuat semangat mengerjakan skripsi kembali :

1. Selalu Ingat Orang Tua

Orang tua bekerja banting tulang untuk membuatmu merasakan jenjang perkuliahan. melihat anaknya wisuda dan menyandang gelar sarjana adalah hal yang membahagiakan bagi mereka.

Setiap tetes keringat orang tuamu menantikan kesuksesanmu. Begitulah ibaratnya besar pengorbanan orang tua serta harapan mereka menantikan kesuksesan anaknya.

Skripsi bukanlah satu hal yang berat. Yang membuatnya berat adalah dirimu sendiri. Semakin malas maka semakin berat rasanya. Ingat kembali orang tua yang telah berjuang keras, jangan biarkan ia kecewa dengan apa yang kamu kerjakan.

2. Jangan Lupakan Umur

Waktu terus berjalan. Detik, menit, jam, hati, minggu, bulan, hingga menjadi tahun tidak terasa terus bergulir. Tiba-tiba, eh udah tahun baru aja ya. Dan, kamu belum tamat. Masih dengan skripsimu yang kamu biarkan.

Ayolah, jangan buang umurmu hanya dengan berjalan di tempat skripsi ini. Tahun tidak akan berhenti berganti jika skripsimu tidak selesai.

Coba deh lihat sekitarmu. Apa yang udah dicapai mereka yang seumuran denganmu? Tidakkah kamu malu dengan diri sendiri. Memang, umur tidak menjadi batasan untuk dapat lulus kuliah. Namun, jika terus menerus dan menjadi kelamaan adik tingkatmu akan semakin banyak. Tidakkah kamu merasakan malu?

Yok semangat ngerjain skripsi, jangan sia-sia kan umur hanya berkutat seputaran skripsi.

3. Perhatikan Temanmu

Kalau mereka bisa, saya pasti bisa. Seharusnya pikiran seperti ini terus tertanam dan tumbuh. Tampa melupakan untuk memperhatikan peluang dan memperbanyak usaha. Mengerjakan skripsi bersama teman juga tidak kalah serunya. Jika suatu ketika terhenti pada satu kalimat bisa langsung bertanya atau meminta tanggapan dari teman tersebut.

Bagi yang belum ngajuin judul, jangan diam saja ketika temanmu sudah mulai ngajuin judul. Lepas belenggu kemalasan apapun alasannya. Karena jika kamu baru ngajuin judul ketika temanmu lulus maka alamat semakin berkurang semangatmu karena temanmu sudah lulus semua dan tidak berada di kampus lagi.

4. Ingat Dosen yang Membimbingmu

Seorang Dosen pembimbing tentunya sangat menginginkan skripsi mahasiswa bimbingannya rampung. Jika tidak selesai-selasai maka kamu akan menjadi beban tersendiri baginya.

Walaupun terkadang seorang dosen sedikit susah untuk ditemuin. Namun, hal itu bukanlah sebuah alasan. Selain menjadi seorang pendidik ia juga mempunyai tugas lain.

Komunikaskan dengan baik dengan dosenmu, InsyaAllah ada kemudahan dalam setiap kesulitan yang kamu hadapi. Oleh karena itu, tetap semangat.

5. Ingat Jurusanmu

Selain empat poin di atas, poin yang ini juga tidak kalah penting. Orang tua, teman, umur, dan dosen tentu tidak ingin kita menyia-nyiakannya. Begitu juga dengan jurusan. Semakin lama tamat maka semakin berat beban yang diberikan kepada jurusan. Karena jumlah mahasiswa yang berhasil menyelesaikan studinya dengan cepat atau tepat waktu tentunya sangat berpengaruh terhadap akreditasi jurusan.

Janganlah menjadi orang yang terus membebani orang sekitar kita. Ayo semangat mengerjakan skripsi. Agar bisa membantu jurusan dalam menaikkan akreditasinya.

6. Bayar Lagi

Semakin lama kamu lulus maka semakin lama kamu bayar uang kuliah. Bagi kamu yang memiliki banyak uang mungkin tidak masalah. Tetapi, bukankah lebih bagus jika kamu cepat lulus dan uangmu bisa dialihkan ke hal lain yang jauh lebih bermanfaat.

Apalagi kamu yang uang kuliahnya masih dibayari orang tua. Tidakkah kamu kasihan terhadap orang tuamu sendiri jika masih harus menbayar uang kuliah karena kamu malas mengerjakan skripsi. Bagi kamu yang bayar sendiri uang kuliahnya, ya nggak masalah nggak lulus-lulus. Cuman ingat lagi alangkah lebih bermanfaat jika cepat lulus dan uang itu dapat dimanfaatkan untuk hal lain.

Ayo! Semangat mengerjakan skripsi.

7. Sukses Menantimu

Menunda kelulusan maka menunda kesuksesan. Agaknya seperti itu hukum sebab akibat yang terjadi apabila terus menunda mengerjakan skripsi. Ingat! Masih banyak impian yang harus dicapai. Sesulit apapun itu teruslah berusaha dan jangan sampai skripsi menjadi alasan penghambat kamu mencapai kesuksesanmu.

Jangan pikirkan dulu setelah tamat mau jadi apa. Yang terpenting selesaikan dulu kuliahmu, karena kesuksesan itu akan datang sendiri melalui usahamu. Jangan khawatir setelah lulus mau ngapain. Yang tidak kalah penting segera selesaikan kuliahmu dan masa depan akan segera dimulai.

Itulah kiranya 7 hal yang dapat meningkatkan semangat dalam mengerjakan skripsi. Jangan tunda lagi. Jika skripsi itu sulit menurutmu, maka rubahlah pola pikirmu hingga mengatakan bahwa skripsi itu tidaklah sulit.

Apapun hambatannya terus berjuang, jangan sampai berhenti di tengah. Karena di balik kesusahan pasti ada kemudahan.. SEMANGAT PARA PEJUANG SKRIPSI !!!

Salam Stemians
——
NOTE:
Tulisan ini dibuat dengan tujuan menjadi cambuk bagi para pejuang skripsi untuk terus berusaha. Terutama untuk diri penulis sendiri yang tengah berada dalam masa penyelesaian skripsi. Karena semangat dalam menulis skripsi juga bagiakan gelombang iman, kadang naik juga tidak jarang turun. Semoga bermanfaat. Terimakasih. 🙂

[Mutiara Hati #4] MERASA PINTAR

Manusia adalah makhluk yang diciptakan dengan sebaik-baik bentuk. Diciptakan dalam berbagai keragaman, bersuku-suku, berbudaya-budaya, berbangsa-bangsa, dan bernegara-negara. Memiliki akal pikiran untuk menentukan mana yang baik dan mana yang buruk.

Berbicara perkara pikiran mengarahkan kita kepada dua hal. Bodoh dan pintar. Sebagian dari mereka merasa bodoh karena tidak mendapat hasil ujian yang memuaskan atau bahkan tinggal kelas. Sebagian dari mereka juga merasa pintar karena selalu mendapat nilai bagus ketika ujian, dapat menghafal banyak teori, atau lulus dengan predikat terbaik.

Namun sadarkah kita, semua manusia terlahir dalam keadaan pintar. Tidak ada yang bodoh. Karena takaran pintar bukanlah mendapat nilai sempurna ketika ujian atau naik kelas dengan nilai sempurna.

Rasulullah pernah berkata, ada dua ciri seseorang itu dikatakan pintar:

1. Orang yang selalu muhasabah diri
Orang yang selalu muhasabah dari adalah orang yang selalu memperbaiki diri, introspeksi diri. Mencoba melihat kekurangan yang ada pada dirinya dan secara perlahan mempelajari dan mebgubahnya menjadi kebaikan.

Mereka melakukan kesalahan, namun setiap hari berusaha memperbaiki kesalahannya dan berusaha semaksimal mungkin mengulangi kesalahan yang sama.

2. Orang yang beribadah untuk hari setalah kematian
Kodrat manusia diciptakan adalah untuk beribadah kepada Sang Khalik, Sang Pencipta alam semesta. Mengerjakan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Beribadah ikhlas dengan landasan mempersiapkan diri untuk hari setelah kematian. Hari dibangkitkan, hari dikumpulkan di Padang Mahsyar, hari ditimbangnya segala amal, hari diputuskannya masuk surga atau neraka.

Itulah ciri-ciri orang pintar yang sebenarnya. Ia yang sadar bahwa dunia hanya sementara dan akhirat selama-lamanya. Oleh karena itu, jangan pernah merasa pintar jika belum memenuhi dua ciri di atas.

-Self remainder-


 

NOTE:

Photo-photo di atas merupakan dokumentasi kenang-kenangan dari perkumpulan remaja mesjid yang digembleng dengan luar biasa. 😀

[Mutiara Hikmah #3] AKIBAT KURANG TELITI

[Sumber Gambar](https://www.google.com/search?q=kurang+teliti&prmd=inmv&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=0ahUKEwi2jPjN85HcAhULK48KHSWoBTgQ_AUICigB&biw=320&bih=454#imgdii=6B8TbrgkHE9eGM:&imgrc=Rme8qtTQmn21YM:)

Keseharian wartawan adalah meliput berita, kemudian mengemas sedemikian rupa hingga akhirnya diterbitkan oleh media baik cetak, elektronik, maupun online.

Dalam meliput berita juga banyak hal yang dilalui oleh seorang wartawan. Mulai dari perasaan haru ketika meliput berita bencana alam, bahagia ketika meliput berita Indonesia Juara Piala AFF, dan masih banyak lagi pengalaman hingga kisah yang menempah seorang wartawan menjadi profesional di bidangnya.

Belum lagi tekanan deadline yang seolah-olah menghantui. Berat memang menjadiseorang wartawan yang harus menjadi perpanjangan tangan dalam penyebaran suatu informasi. Oleh karena itu, ketelitian adalah hal mutlak yang harus dilakukan seorang wartawan walaupun berada dalam suatu suasana tertekan yang luar biasa.

Berikut terbentang terpaparkan sebuah kisah akibat kurang teliti dari seorang wartawan yang terdesak deadline untuk mengumpulkan berita.

Gubrak! Terdengar suara yang mengejutkan warga. “Tabrakan… cepat tolong” teriak salah seorang yang berlari menuju lokasi kecelakaan. Seketika ramai orang mengerubungi kejadian tersebut melihat korban serta pelaku tabrakan, tidak lupa berebut mendokumentasikan melalui gawai yang ada digenggaman masong-masing.

Melihat suasana ramai seorang wartawan yang sedang lesu karena belum mendapatkan berita satu harian ini, melonjak semangat, seoalh-olah ada yang menekan tombol “on” pada otaknya mengisyaratkan ini adalah berita yang harus diliput.

Akibat terlalu ramainya orang yang mengerubungi kejadian tersebut. Sang wartawanpun kesusahan untuk dapat mengambil gambar si korban. Berkali-kali mencoba, namun gagal untuk dapat menyelip disela-sela kerumunan.

Mundur satu langkah sembari berpikir. “Aahaa” senyum lebar sang wartawan tanda telah menemukan ide terpancar cerah.

“Ehem.. ehem…” sang wartawan menyetel suaranya.

“Permisi-permisi saya ayah korban, mohon minggir sedikit. Permisi-permisi” sang wartawan mencoba menyisir rapatnya kerumunan.

“Awas, awas” sambil berbisik warga yang berkerumun seolah membuka gerbang barisan agar ayah korban bisa langsung mendekati lokasi kejadian.

Dengan perasaan lega sang wartawan berjalan perlahan mendekati lokasi kejadian. Seraya berfikir bahwa taktiknya berhasil.

Setelah mendekati lokasi sang wartawan terkejut, suara bisikanpun semakin ramai terdengar, ternyata yang menjadi korban kecelakaan adalah seekor anak monyet yang lepas menyebrangi jalan. Dengan perasaan sedikit kikuk wartawanpun meninggalkan lokasi kejadian.

:v hehehe.. tingkatkan ketelitian dan jangan halalkan semua cara untuk mencapai sebuah tujuan.


 

NOTE: 

Cerita tersebut merupakan fiksi belaka. Semoga bermanfaat. Terimakasih. 🙂

[MUTIARA HIKMAH #2] KEKUATAN HARAPAN

Suatu hari seorang pria dari Nanggroe Aceh Darussalam hendak menuju Kendari, Sulawesi Tenggara. Dalam perjalanan, pesawat yang digunakan harus melakukan transit di Ibu Kota Jakarta karena jarang-jarang ada pesawat yang berangkat menuju Kendari. Setibanya di Jakarta, pria tersebut segera melesat mencari penginapan karena waktu semakin senja, pukul 17.00 WIB.

Selesai meletakkan seluruh barangnya pada kamar hotel, ia berjalan keluar menuju lobby melihat-lihat kondisi sekitar dan menikmati sore di kota metropolitan. Tepat di depan hotel, pukul 18.00 WIB. Ia memperhatikan seorang wanita paruhbaya, kira-kira berumur 50 tahun, tengah berdiri diseberang jalan dengan dandanan yang masih segar sambil menghisap rokok. Tak lupa ia selalu menebar senyum kepada siapa saja yang melewatinya.

“Mungkin ia PSK” ujar pria tersebut dalam hatinya. Kemudian ia kembali ke hotel.

Pukul 20.00 WIB. Ia keluar untuk mencari makan malam. Ia terkejut masih melihat wanita yang sama di seberang jalan. Dengan posisi yang tidak berubah, dandanan yang terap fresh, serta sebatang rokok yang setia menemani setiap tebaran senyumnya.

Pukul 22.00 WIB. Ia telah kembali dari berburu kuliner. Cepat-cepat ingin kembali ke hotel karena esok dini hari ia harus segera hengkang dari hotel. Pesawat yang akan ia tunggangi akan melesat tepat pukul 03.00 WIB.

Berjalan terburu-buru, sempat menoleh keseberang jalan dan berhenti karena heran. Apa yang ia lihat beberapa waktu lalu, detik ini ia juga melihat hal yang sama. Seorang wanita, dengan dandanan fresh, sebatang rokok sambil menebar senyuman.

Sadar dari keheranannya ia segera melanjutkan perjalanan ke hotel.
“Jreeeng.. jreeeng..” alarm pukul 02.00 WIB. Berbunyi, tanda ia harus segera berangkat agar tidak tertinggal pesawat.

Keluar dari hotel keheranan pria itu memuncak melihat wanita paruhbaya di seberang jalan yang tak berpindah posisi sedikitpun. Masih memperbaiki dandanannya, sembari menghisap rokok dan tidak lupa untuk terus senyum.

“Ia pasti belum makan, bagaimana kalau kuberikan sedikit uang ini padanya?” Berbagai dugaan hilir mudik di kepalanya. Namun semua dugaan itu ditepis oleh pertimbangan bahwa ia orang baru dan hanya numpang sebentar saja di sebuah hotel yang mungkin tidak akan kesini lagi.

Sepanjang perjalanan menuju bandara ia berpikir. Apa yang menyebabkan wanita paruhbaya tadi sanggup berdiri berjam-jam, menebar senyum tiada henti. Mungkin ia masih akan tetap berdiri hingga matahari terbit esok dan baru kembali kerumahnya setelah jalanan terang.

Hikmah apa yang dapat kita ambil dari cerita singkat di atas? Sudahkan kita menemukan apa faktor yang menyebabkan wanita paruhbaya tadi kuat untuk berdiri dan menebar senyum berjam-jam lamanya?

Pada dasarnya hal yang membuat manusia itu kuat adalah harapan. Begitu juga dengan wanita paruhbaya itu. Ia kuat karena setiap detiknya, setiap senyuman yang dilontarkan ada yang tertarik dan mengajaknya kencan. Ada yang tergoda dan mengajaknya jalan. Setiap pergantian waktu harapan itu terus muncul dikepalanya sehingga ia terus berusaha mewujudkan harapan itu.

Mungkin tidak hanya hari itu saja, hari sebelum itu. Bisa jadi minggu, bulan, tahun, atau puluhan tahun lamanya ia melaksankan kegiatan itu dengan bermodalkan harapan yang sama.

Pertanyaan selanjutnya, apakah wanita paruhbaya tersebut akan berhenti jika malam itu tidak ada yang menghampirinya dan mengajaknya kencan? Tentu tidak, dikemudian hari ia akan terus coba lagi, coba lagi, dan coba lagi hingga waktu yang tak ditentukan.

Contoh lain bisa kita lihat dari nelayan. Seorang nelayan yang berhari-hari di laut, ketika kembali harapannya memperoleh ikan tidak tercapai akankah ia berhenti ke laut dan tidak lagi menjadi seorang nelayan? Tidak, tentu tidak. Karena ia akan kembali esok, esok, hingga waktu yang tidak ditentukan juga.

Jika kekuatan harapan mampu menepis lelah, letih, juga lesu seperti PSK paruhbaya yang berharap akan ada yang mengajaknya kencan. Atau seperti nelayan yang berharap akan keadaan agar esok ia bisa memperoleh banyak ikan. Maka teruslah berharap. Namun jangan letakkan harapan kepada manusia ataupun keadaan. Sandarkanlah harapan kepada-Nya Yang Maha Memberi. Allah SWT.


NOTE:

Tulisan ini dibuat agar menjadi bahan introspeksi penulis secara pribadi dan seluruh pembaca secara umum. Semoga bermanfaat. Terimakasih. 🙂

[Mutiara Hikmah #1] Belajar dari Tukang Parkir

Profesi sebagai seorang tukang parkir kerap dipandang sebelah mata dan menjadi ladang pungutan liar. Hal itu disebabkan karena untuk menggeluti profesi ini tidak memerlukan modal yang banyak hanya bermodalkan peluit, rompi berwana menocolok (oren atau hijau terang), sebuah topi untuk melindungi wajah dari sengatan matahari, dan lahan parkir. Selain itu bisa dilakukan oleh siapa saja, remaja, dewasa, bahkan orang tua saat ini juga tidak jarang ditemukan perempuan menjadi tukang parkir. Oleh karena itu banyak tukang parkir dadakan yang ada pada lokasi destinasi wisata yang berujung pada pungutan liar atau dikenal dengan istilah pungli, tidak jarang pula terjadi pemaksaan untuk memberikan uang parkir, jika hal itu terjadi maka tindakan tersebut telah melanggap peraturan yang tertera dalam pasal 368 ayat (1) KUHP.

Terlepas dari itu semua ada hal unik yang mungkin dapat kita ambil ibrahnya dari seorang tukang parkir. Pepatah minang mengatakan “alam takambang jadi guru”, artinya alam yang luas terbentang ini bisa menjadi guru tempat kita belajar. Makna alam disini juga termasuk lingkungan disekitar kita dan seluruh kejadian yang ada disekeliling kita.

Apa yang dapat kita pelajari dari seorang tukang parkir? Seorang tukang parkir tidak pernah sombong ataupun angkuh ketika memiliki deretan mobil dengan berbagai merek. Setelah mobil tersebut satu persatu pergi meninggalkan tukang parkir, ia tidak pula sedih dengan keadaan tersebut karena ia tahu bahwa itu semua adalah titipan dan titipan tersebut harus dijaga dengan sebaik-baik mungkin. Jangan sampai terjadi apa-apa dengan barang titipas tersebut karena akan berat mempertanggung jawabkannya.

Semua yang ada di dunia ini adalah titipan. Ya, semua yang kita miliki juga adalah titipan. Keluarga, harta benda, kekayaan, tahta, jabatan, pangkat, dan lain sebagainya semua adalah titipan. Sebagai manusia yang diberi amanah akan titipan tersebut tentu kita harus menjaganya sebaik mungkin. Karena kelak akan diminta pertanggung jawaban akan semua yang kita lakukan.

Setelah menyadari bahwa semua ini adalah titipan, maka ketika kita memiliki uang berlipat, rumah bertingkat, isteri empat (:v wkwk full kuota), dan deretan mobil mengkilat kita tidak sombong dan lupa diri. Agar ketika itu semua ditarik oleh sang pemiliknya kita tidak lagi sedih terpuruk, meratap, menangis meraung-raung melainkan harus ikhlas, qana’ah, menerima apa adanya.

Menjaga barang titipan juga harus dengan senang hati. Karena ketika menitipkan barang dalam keadaan bagus dan kembalipun harus dalam keadaan bagus pula. Jangan malah terbalik, ketika dititipkan bagus kembalinya sudah compang-camping, lecet sani-sini, pacah kacanya, yang parahnya lagi hingga tidak bisa dipergunakan lagi. Esok hari tidak akan ada lagi yang akan menitipkan barangnya.

Hutan luas di bakar, laut indah dicemari, tebing berbaris dikikis, macam-macamlah ulah tangan manusia yang kita lihat, tidak menjaga apa yang dititipkan kepadanya. Oleh karena itu, jika terlupa marilah diingatkan, jika terlewat marilah kembali, jika terlamun marilah disadarkan. Hidup hanya sementara sesali apa yang telah dilakukan, susun langkah baru untuk menata perubahan. Masih banyak barang titipan yang kita miliki, marilah kita jaga dan rawat sebaik mungkin hingga Yang Maha Memiliki mengambil kembali apa yang telah ia titipkan kepada kita.


 

NOTE:

Tulisan ini dibuat untuk mengingatkan diri penulis sacara pribadi dan pembaca secara umum. Semoga bermanfaat. Terimakasih. 🙂

[Kaya Indonesiaku #1] LAMPU ITU BUKAN TUGU

Sumber

Dear Stemian,

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik, Indonesia memiliki 129.281.079 unit kendaraan bermotor di tahun 2016. Terbagi atas 105.150.079 unit sepeda motor, 7.063.433 unit mobil barang, 2.486.898 unit mobil bis, dan 14.580.666 unit mobil penumpang.

Jumlah yang tidak sedikit bukan. Apalagi di tahun 2018 ini jumlah tersebut dapat dipastikan meningkat. Dilihat dari semakin banyak dan besarnya kebutuhan individu atau kelompok terhadap kendaraan bermotor.

Berdasarkan jumlah tersebut tidak jarang kota-kota besar di Indonesia mengalami kemacetan. Layaknya DKI Jakarta, Medan, dan beberapa jajaran kota lainnya yang tidak ingin ketinggalan. Meski belum separah Dubai sebagai daerah terpadat dan termacet di dunia, namun pemerintahan Indonesia kewalahan menangani kasus ini dilihat dari belum banyaknnya perubahan atas kemacetan yang terjadi.

Selain masalah kemacetan, Indonesia juga mendapatkan deretan masalah lainnya yang tidak bisa di pandang sebelah mata, yaitu angka kecelakaan tinggi, parkir liar dan pungutan liar. 😀 (seperti di dalam rimba saja yaa, ada liar-liarnya)

Meneropong lebih jauh, sebagai makhluk yang diberikan keistimewaan akal dan pikiran tidak cukup hanya berhenti pada masalah (kemacetan dan tingginya angka kecelakaan) yang dihadapi. Bermula sebuah masalah karena ada sebabnya, layaknya tidak ada asap jika tidak ada api.

Selain meluapnya jumlah kendaraan yang ada. Penyebab lain kemacetan dan tingginya angka kecelakaan adalah tidak sadarnya para pengendara bermotor akan rambu-rambu lalu lintas. Secara pengetahuan semua tahu bahwa lampu merah tandanya berhenti, kuning hati-hati, dan hijau silahkan jalan. Namun mereka tidak sadar, yang dibutuhkan bukalah hanya mengetahui tapi butuh juga menyadari serta mematuhi.

Banyak yang menganggap jejeran lampu tiga warna itu hanya penghias di jalan raya bagaikan tugu di sebuah taman. Ya, sepertinya istilah itu lebih cocok “lampu yang dianggap sebagai tugu”. Padahal sebenarnya ia berdiri untuk membantu agar tidak terjadi kesalahpahaman yang berujung dengan kecelakaan. Makna lain yang dapat diamati, jika lampu itu beridiri pada satu persimpangan maka masyarakat seputaran persimpangan itu saja yang harus menaati, misalnya ada lampu tiga warna persimpangan Pabrik A maka yang wajib menaati hanyalah karyawan serta buruh pabriknya saja. 😀 (jadi harus pasang lampunya setiap rumah biar semua menaati, hehe)

Berbicara perkara lampu ini, tidak lengkap tampa satu kisah berikut:
Dipersimpangan kota, ada seorang pengendara motor menggunakan atribut lengkap (helm, spion, dan lain-lain) yang kemudian menerobos lampu merah.
“Priiiiiiiit” suara peluit panjang dari seorang polisi menghambat sepeda motor yang menerobos lampu merah tersebut. Segera polisi tersebut mendekat dan bertanya.
“SIM?” tanya Polisi.
“Ini pak” jawab pengendara motor tersebut
“STNK?” lanjut Polisi.
“Ini pak” menjawab singkat.
“Kamu lengkap, lantas kenapa menerobos lampu merah?” Kembali Polisi bertanya.
Dengan tidak merasa bersalah pengendara motor tersebut menjawab “Hehe. Saya nggak lihat ada bapak”. :v (wkwkwk)

Hal itu juga menjadi PR untuk kita semua, ketika yang diakuti pengendara motor adalah ditilang polisi daripada nyawa sendiri dan keselamatan orang lain ketika menerobos lampu merah.

Lantas apa yang harus kita lakukan selain berharap kepada kebijakan-kebijakan yang diambil pemerintah, mulai dari pembangunan jalan tol, kerja polisi yang harus semakin keras, perluasan jalan, dan menambah atribut lalu lintas. Sebenarnya ada banyak yang dapat kita perbuat sebagai pengguna fasilitas umum termasuk rambu-rambu lalu lintas. Mulai dari menyadari pengtingnya menjaga keselamatan diri kita dan pengendara lain. Patuhi setiap rambu-rambu yang dipasang, karena rambu-rambu dan lampu itu bukan tugu. Kemudian bersabar ketika ada kemacetan, tidak saring dahulu mendahului. Perhatikan juga keselamatan pejalan kaki, jangan trotoar dijadikan solusi untuk menerobos kemacetan, dan masih banyak lagi tentunya yang harus diperhatikan serta perlahan kita rubah.

“Indonesia adalah negeri kaya. Kaya akan alam, budaya, bahasa, dan keragamannya. Namun, Indonesia juga kaya akan masalah. Oleh karena itu, marilah perbaiki diri kita dan jadilah satu solusi dari ribuan masalah yang dimiliki Indonesia”.

Salam Stemian


NOTE:

Tulisan ini dibuat untuk menegur dan mengingatkan diri penulis sacara pribadi dan pengendara motor lainnya yang belum menyadari pentingnya menaati rambu-rambu lalulintas. Semoga bermanfaat. Terimakasih. 🙂

[Balerong #9] PESAN AYAH UNTUK ANAK PEREMPUAN : BERKELUARGA JUGA BERMASYARAKAT

Klik disini untuk membaca tulisan sebelumnya.

Sekarang nak, ayah alihkan kisah kepada yang lain tapi masih berhubungan dengan rumah tangga. Mengenai hubungan ipar dan bisan.

Pepatah pernah berkata

“Jika iba dengan sawah perbaikilah irigasi, jika harap dengan telur serakilah jagung”.

Maknanya, harmonisnya suatu rumah tangga, awet serasi suami istri hendaklah dengan mertua bertali batin, dengan ipar bersilaturahmi, dengan keluarga mertua lainnya berbasa-basi. Pandai memelihara hubungan diplomatik dengan keluarga besar dari pihak suami. Begitu kira-kira kalimat besarnya.

Secara materi hukum, hanyalah orang yang berdua yang memliki ikatan batin dalam lembaga perkawinan. Tapi ingatlah, bahwa satu unit rumah tangga adalah bagian dari masyarakat. Masyarakat yang mengandung tatanan norma untuk dipatuhi dan ditaati. Singkatnya yang menikah adalah pengantin laki-laki dan perempuan namun yang kawin adalah kedua kaum masing-masing.

Oleh sebab karena itu nak, sebagai seorang istri, sebagai menantu orang kamu memikul beban moral dalam membina dan memupuk cara berukun ipar dan bisan. Pandai-pandai bertanam budi, baik-baik menjalin bahasa, tahu memperkirakan. Jangan pelit terhadap ipar ataupun mertua.

Jika suami membela orang tuanya, mengurus keponakannya, ataupun urusannya dikaumnya, jangan cemberut dan mengumpat. Panas tadah dari pada cangkir nanti nak. Jangan!

Ingatlah jasa mereka dulu nak. Coba pikir coba renungkan. Sejak kecil padi dirawat dibesarkan, di halau segala hama yang mendekati. Namun ketika padi telah kuning orang lain yang menyabitnya. Ingat jasa baik mereka nak, jangan lupa jasa tanah karena manis air tebu.

Penghabisan ayah ingatkan nak. Dimanapun kamu tinggal nanti nak. Di kampung, di rantau, di desa, atau di kota kita mesti bermasyarakat. Tidak boleh memisahkan diri nak. Perbaiki hubungan dengan orang banyak, pelihara silaturahmi, serta pedulilah dengan lingkungan.

Cara bertetangga. Hendaklah pandai bertenggang rasa, tahu mempertimbangkan hati orang. Dalam menjalin pergaulan hati-hati dalam menjaga jarak, jangan terlampau erat sehingga semua yang terjadi di rumahmu diketahui oleh tetanggamu. Jangan nak! Sesekali nanti ada kesalahan maka dirimu yang akan menyesal nak.

Selain dari pada itu, jika ada perselisihan berbeda cara pandang itu biasa dalam hubungan rumah tangga. Selesaikan secara baik. Jangan emosi apalagi egois hendak menang sendiri. Selangkah mengambil keputusan selalu ajak suami untuk bermusyawarah. Kadang-kadang sengketa itu jadi rahmat. Disitulah seninya berumah tangga nak. Jika memang terlalu berat permasalahan limpahkan kepada yang lebih tua, jangan didiam-diamkan apalagi menyebut-nyebut cerai.

Ayah kutuk ayah sumpahi jika ke dukun kamu mengadu, ke dewa meminta tolong, ramuan perkasih yang dicari. Itu bodoh! Namun jika ke Allah SWT kamu mengadu. Serahkan diri, pulangkan urusan kepada yang satu, tawakaltu ‘alallah. Kemudian berdoalah.

Nak, itulah kiranya yang dapat ayah pesankan. Semoga bisa menjadi bekal dalam menjalankan kehidupanmu kedepannya. Ayah mohon maaf jika ada kata ayah yang tidak pada tempatnya. Kepada Allah ayah memohon ampun, karena kebenaran hanya milik-Nya.

“Ya Tuhan kami berilah ketenangan kepada kami, dari suami dan keturunan kami, dan jadikanlah kami sebagai pemimpin dari orang-orang yang muttaqin”

“Cukuplah aku bersandar kepada Allah, tiada Tuhan yang kusembah selain Dia, kepada-Nya lah aku bertawakal, dan Dia adalah Tuhan arasy yang agung”

**SELESAI**

[Balerong #8] PESAN AYAH UNTUK ANAK PEREMPUAN : STRATEGI BERUMAH TANGGA

Klik disini untuk membaca tulisan sebelumnya.

Melanjutkan pertanyaan pada tulisan sebelumnya “lantas apa yang harus dilakukan?”. Kalau ingin menyelamatkan mobil, seorang kondektur mesti berbuat sesuatu. Jangan sama-sama berteriak dengan penumpang, menyumpah-nyumpah supir, atau melompat di pintu belakang. Jangan!

Maksud ayah, supir itu adalah suami sedangkan istri adalah kondektur. Orang sedinas namun berbeda tugas. Bagaimana caranya? Simak baik-baik nak, ayah jelas ayah terangkan.

Menurut sebagian para ahli tidaklah benar motivasi puber kedua karena limpahan libido laki-laki atau over produksi zat hormon, sehingga mendesak gairah seks. Itu salah nak. Para ahli juga melanjutkan, kaidah kejantanan yang secara naluriah bersifat penakluk pada umur 40 sedang berada dititik puncak. Naluri itulah yang menjelajah ingin menundukkan kehidupan termasuk bidang yang satu itu.

Coba kita ingat sejarah nak, ketika Nabi Muhammad SAW berumur 40 tahun datang dua malaikat membelah dada beliau mebersihkan kotoran hati kemudian menukarnya dengan yang bersih. Barulah Nabi Muhammad diberi tugas kerasulan. Begitulah pengalaman Rasulullah.

Adapun faktor lain, menurut ahli yang berbeda. Penyebabnya sederhana saja, hanya masalah kejenuhan, lain dari pada itu tidak ada. Oleh sebab sudah belasan tahun bergaul, pagi, petang, siang, dan malam yang terlihat hanya itu-itu saja maka datanglah rasa bosan. Ibarat makan nasi jika setiap hari hanya makan lalapan dan sambalado tentu sesekali hendak rendang ayam, semur jengkol, sayur asam, dan lain-lain. Sekali lagi ayah katakan nak, itulah ia nafsu.

Sehubungan dengan hal tersebut, ada dua pesan yang ingin ayah sampaikan untuk mengahadapi laki-laki yang berbuat seperti itu, diantaranya:
1. Untuk menghindari pertengkaran, jangan dipatah atau dikerasi. Biarkan saja agak sejenak nanti dia akan kendor dan lemah dengan sendirinya. Biasanya tidak terlalu lama itu nak. Menanggapi hal itu nak, pakailah ilmu bermain layang-layang. Ketika angin di atas sedang kuat ulurlah benang perlahan-lahan. Nanti ketika denyutnya angin sudah berkurang di atas putar benangnya kembali. Tenang-tenang saja, anggap saja ia sedang sakit. Mudah-mudahan aman. Sama halnya dengan laki-laki menghadapi perempuan ngidam, tengah malam diminta membeli es krim harus berangkat.
2. Karena telah datang bosan ia mencari keluar rumah. Sesuatu yang baru, suasana yang segar, santai dan semarak. Nah, sediakan apa yang dicarinya itu nak. Ciptakan kesegaran di rumah tangga. Ayah yakin, walaupun tidak menghambat total namun sekedar mengantisipasi besar manfaat dan kegunaannya. Kalau tidak seperti itu di tambah istri masa bodoh, maka siap-siaplah mendengarkan kabar bahwa ia telah terpaut dengan yang lain. Kamu juga yang ujungnya akan makan hati nak.

Terkadang orang perempuan ini nak, karena sudah asyik dengan anak, perhatian kepada suami mulai berkurang. Baju suami lupa digosok, kopi suami buat sendiri, bahkan kamar berantakan. Bagaimana kapal hendak berlabuh nak sementara teluk seperti melengahkan.

Nah jika solusinya menurutmu dengan menyewa seorang pembantu, maka ada hal yang ingin ayah sampaikan ketika telah memiliki pembantu, yaitu bukan semua urusan diserahkan kepada pembantu kamu tinggal memerintah. Jangan! Yang menyediakan jeperluan suami tetap kamu nak. Menghidangkan nasinya, bajunya, sabun mandinya, perlengkapan kantornya, pendeknya urusan pribadi suamimu jangan dilepaskan kepada orang lain. Sebab rasa dan aroma tangan istri itu akan mempertemukan dua unsur berlain kutub mewujudkan zat baru yang bernama kasih sayang.

Tetapi jika hal pribadinya telah diurus pembantu maka percayalah urusan lain akan dibantunya juga nak. Percayalah!

Jangankan suami nak, anak-anak pun juga demikian. Mulai dari menceboki hingga menyuapi, terus membedung meniduri, sampai mengajak bermain semuanya jasa si bibi. Maka ketika sudah besar anakmu lebih sayanglah iya kepada babu dari pada ibu yang melahirkannya. Kenapa demikian? Kembali kepada yang tadi, dawai kasihnya menyambung kepada batin orang yang menanam rasa sayang kepada dirinya. Itulah juga sebabnya nak, zaman dahulu ibu-ibu menyuapkan anak bukan dengan sendok melainlan dikunyahnya dahulu nasi itu hingga lembut baru dimasukkan ke mulut anaknya. Dengan begitu rasa keibuan dari sang ibu akan langsung menjadi darah membentuk jiwa silaturahim antara si anak dan si ibunya.

Walaupun kamu wanita karir yang ikut terjun mencari nafkah, tidak ada alasan sibuk. Tugas pokok di rumah tangga wajib mutlak ditangani. Selain itu kamu aktif di PKK, ketua pengurus di ‘aisyiyah, bagus itu. Intinya yang terpenting pandai berbagi waktu, perhatian jangan sumbing kesuami anak-anak dididik diarahkan. Itu saja.

Hendanya nak, kalau boleh pinta ayah berlaku. Suasana berumah tangga ini jangan seperti tebu yang makin ke ujung semakin hambar nak. Tapi bagaikan meminum kopi manis, semakin disedu semakin nikmat, semakin tua semakin mesra, berbimbing-bimbing ke surga. Itulah rumah tangga yang sakinah, mawaddah, warahmah.

**BERSAMBUNG**

[Balerong #7] PESAN AYAH UNTUK ANAK PEREMPUAN : RAHASIA LAKI-LAKI

Klik link disini untuk baca tulisan sebelumnya

Sebagai seorang pemimpin suami wajib dimuliakan, wibawanya dipelihara, kebijaksanaannya ditaati. Barulah terlihat kepemimpinan seorang suami. Sebagai manusia dia pasti tidak sempurna, ada kekurangan di samping adanya kelebihan. Untuk itu, istri yang arif dan bijaksana pandai bersyukur dengan apa yang ada serta siap menerima kekurangan sang suami. Harus ikhlas, sabar, dan rela juga berusaha menutup kekurangan tersebut. Sudah termasuk sifat tidak terpuji nak jika membuka-buka kekurangan suami nak, baik yang lahir berupa materil apalagi yang batin secara moril.

Sebaliknya nak, jangan pula membangga-banggakan suami, memuji berterus-terusan, menceritakan suami itu orangnya gagah, setia, serta hebat. Jangan nak! Jangan. Akan jadi bahan pergunjingan orang nantinya.

Nak, adapun dalam menjalani kehidupan tidak ubahnya ibarat berlayar di lautan. Adakalanya air tenang, matahari bersinar, hujan teduh, kabutpun terang, tertawa bahagia jurumudi membawa kapal ke arah jarum kompas. Namun terkadang nak, ada juga masanya badai datang, laut menggila, gelap sekeliling, airpun masuk ke dalam kapal, dan mati-matian berjuang nahkodanya. Itulah romantika nak, itulah perjuangan, malah disitu pula letaknya seni dalam hidup. Sehingga dunia ini terasa indah.

Jika menang Alhandulillah. Namun jika kalah diulang kembali perang, tidak hari ini mungkin esok. Sebab, kegagalan adalah kemenangan yang tertunda.

Sudah nak? Ayah lanjutkan. Kalaulah takdir pasang surut. Datang malang cobaan menghampiri, tergoncang jalan kapal. Sampailah kepada istri yang tidak setia ia melompat ke sikoci (perahu kecil yang ada di kapal). Tinggal kapal dan muatan, istri mendayung seorang diri, selamat dari karamnya kapal besi. Namun jika bertemu dengan istri orang budiman. Tidak pemanik hilang akal, tidak mudah berputus asa, malah jika keadaan yang memaksa, cepat-cepat ambil kemudi berusaha bersama-sama jangan sampai karam kapal dengan penumpangnya.

Menurut pengalaman nak, mungkin datang masanya nanti nasib suami sedang kabur. Semakin diasah semakin tumpul. Semakin dibersihkan semakin rimbun. Jika ia seorang pedagang, dagangannya habis hutangnya bertumpuk. Jika ia pegawai profesi, mungkin ia memiliki masalah dengan atasan atau malah di PHK. Jika ia seorang petani, sawah habis di rendam banjir, panen gagal, harga jatuh, tikus banyak yang akan menggerogoti. Pendeknya, bermacamlah musim yang akan menimpa.

Masa disaat seperti itu nak, jadilah engkau istri penawar. Bujuk hatinya dalam risau, hibur ia, berikan kata harapan, bangkitkan semangat juangnya, kipas hatinya agar dingin. Jika kandas semangatnya agak berlarut mati akal, cepat-cepat turun tangan nak, berusaha apa yang mungkin asal halal dan jalan lurus. Jangan malu menerima upah, jangan gengsi di kaki lima, yang penting dapur berasap setia jangan sumbing kepada suami.

Umumnya orang berpendapat,sepanjang kehidupan laki-laki akan mengalami gejolak jiwa dua kali seumur hidup. Sebanyak itu pula terguncang teluk insannya dihempas gelombang nafsu. Itulah zaman pancaroba, puber istilah populernya. Ibarat daya tenaga listrik saat-saat tegangan tinggi adalah ketika _spanning_ naik. Kalaulah tampa adaptor, sekring bisa putus trafo terbakar, neon padam, televisi hangus, dan kulkas tidak dingin lagi.

Kapan masa itu nak? Pertama, sesudah baligh sekitar umur 16 tahun. Kedua, menjelang umur 40 tahun. Itulah masa-masa rawan atau tahun berbahaya bagi seorang laki-laki.

Pada puber yang pertama terjadi perubahan fisik. Suara yang semakin besar, kumis mulai kelihatan, dan badannya mulai berbentuk. Begitupula gejala jiwa, mulai memperhatikan penampilan dan suka berbicara dengan lawan jenis. Lain-lain sifatnya, ada yang pendiam namun matanya memperhatikan, kadang tersenyum. Ada juga yang lasak, anak gadis lewat diteriaki. Ada pula yang gila mencari perhatian, bertingkah yang ganjil-ganjil, kadang meresahkan perangainya. Pendeknya, bermacam-macamlah sifat laki-laki jika dalam masa puber pertama tersebut.

Jika dibandingkan dengan masa puber kedua, puber pertama masih lumayan. Berbahaya memang, tapi kurang daya ledaknya. Ya, paling-paling membaca novel buku romantis, menonton video _blue_ film, atau penghayal pengangan-angan melihat foto pacar dan bersudah di kamar mandi. Heh selesai (ayah tertawa sinis).

Tetapi, puber di umur 40 rusak dan merusak nak. Coba bayangkan seorang laki-laki yang sedang matang, punya 15 tahun jam terbang dengan segudang pengalaman soal wanita. Keluar kandang mencari mangsa nak. Ia gelisah tinggal di rumah, dengan uang royal namun di rumah pelit, anak istri soal belakang berburu perempuan nomor satu. Biasanya diumur segitu orang telah mencapai puncak dikarirnya nak. Kalaupun tidak menjadi bos, paling tidak ia telah mapan diprofesinya dan matang di bidang keuangan. Apalagi didukung dengan kondisi mental yang mantap terkendali.

Tapi ingat, disini pulalah datangnya _testing_ jiwa. _Testing_ jiwa yang hanya sedikit orang yang lulus. Bagi yang kurang persiapan, membawa runtuh harga diri malapetaka rumah tangga. Apa sebenarnya yang terjadi?

Pada saat itu yang terjadi adalah pemberontakan bathin yang meledak-ledak nak. Selalu menuntut penyaluran biologis. Aneh memang, dia keluar mencari penyaluran sementara di rumahnya tergolek pipa penyaluran yang siap menanti air terjun. Itulah yang namanya nafsu, nafsu yang lebih ganas daripada perang badar. Begitulah Rasulullah mengatakan.

Macam-macam perangainya nak. Ada yang keluar pergi ke tempat gelap, diskotik jadi sasaran. Ada pula yang mengincar dan mengumpulkan mangsa anak sekolah. Parahnya ada yang sampai mengganggu rumah tangga orang. Mungkin ia pandai menyembunyikan, namun perasaan dan insting perempuan tidak mudah untuk dikelabuhi, ujung-ujungnya ketahuan. Jika terlalu jauh terpaksalah suami pasang dua. Satu sungai berujung ke dua muara, bagaikan kisah drama nak, sedih akhirnya.

Nak, guna ayah buka ayah perlihatkan rahasia laki-laki agar engkau berhati-hati nak. Besok tidak terlalu terkejut. Sebab siapapun suami kita, biar intelek terpelajar, preman tuak, da’i pendakwah, seniman, ataupun tukang berduit atau mati pajak jarang yang tidak dilandanya.

Ibarat mobil nak, ada yang terjun masuk jurang, ada yang terbalik, setidaknya menyerempet tebing, gardan pecah bodi lecet karena tiang listrik yang disenggolnya. Ayah pun merasakanya juga sebagai sebagai seorang laki-laki. Tapi syukurlah, berkat rem yang masih cakram, kopleng yang tidak lepas dari tangan, stir aman mesin mendukung rambu-rambu pun masih teringat. Kalau sekedar tergoncang-goncang nak, goncang ke kanan oleng ke kiri, terlambar menukar gigi, itu ayah rasakan pula. Hehe 😀

Lantas apa yang harus dilakukan nak?

**BERSAMBUNG**