[Balerong #1] PESAN AYAH UNTUK ANAK PEREMPUAN : MARTABAT PEREMPUAN

Wahai anak perempuanku, mari sini duduk di dekat ayah. Ada yang ingin ayah sampaikan.

Ingin rasanya ayah mengulang cerita lama. Cerita ini tidak akan dilupakan walau hanya setitik dan tidak akan hilang walau hanya sebaris nak. Kala itu ayah berdo’a menginginkan seorang anak perempuan. Gunanya anak perempuan adalah penyambung pusaka keturunan, jika umur dipanjangkan maka ia yang akan membimbing ayah disaat tua karena ayah tidak punya saudara lagi.

Menanti kelahiranmu nak, do’a dihantar air mata ayah terbangkan. Naik membubung masuk embun, menelisik awan hingga langit tujuh tingkat dan bersarang di arasy. Hingga engkau lahir di atas dunia ini.

Mendengar lengkingnya tangisanmu nak. Terkejut ayah dalam kecemasan lalu meringkuk sujud syukur, iqamat pun dibisikkan. Allahu Akbar, Maha Suci Engkau Ya Allah Tuhan seluruh alam.

Maka disaat itu juga tersematlah kewajiban bagi ayah, diantaranya membawa turun mandi, memberi nama, dan mengikahkan. Semenjak setelah itu engkau beransur-ansur tumbuh dan besar. Dihitung-hitung hari. Dibilang-bilangkan bulan, bulan jadi tahun masuklah tahun yang ke-tujuh.

Kembali datang kewajiban kepada ayah, yaitu menyekolahkan dan menhgajarimu mengaji. Berharap anak akan besar layaknya orang, maka ayah berusaha lebih untuk mencari rezeki hilir mudik. Siang dan malam, segala cara telah ayah tempuh, berbagai rasa telah ayah rasakan. Hanya dua hal yang belum ayah rasakan nak, pertama mati dan kedua kaya.

Walaupun begitu nak, tetaplah bersyukur kepada Yang Maha Esa kita bisa hidup dengan sederhanaan ini. Ini semua adalah hasil usaha dan kerja keras ayah dan yang terpenting bukan hasil melalui penipuan ataupun pencurian.

Alhamdulillah, engkau kini telah beranjak dewasa nak. Entah berlanjut entah tidak sekolahmu itu hanya dalam ilmu Allah tinggal kita yang berusaha. Maka saat sekarang ini nak, tinggal satu kewajiban ayah, yaitu mencarikan kamu jodoh. Jika itu yang bertemu maka lunaslah semua hutang ayah akanmu nak karena pasangan telah menggantikannya.

Sedikit ayah certakan nasib kaum perempuan nak, sebelumnya ayah meminta ampun kepada seluruh kaum perempuan karena sedikit membuka certa ini. Sejak zaman jahiliyah hingga zaman modern seperti sekarang ini, biarpun di timur, barat, selatan, atau di utara sama saja jatuh harganya perempuan. Hanya di alam Minang Kabau yang memuliakan kaum perempuan hingga bernasab pada ibu.

Coba simakkan nak. Dimulai dari cerita Nabi Adam. Pada suatu ketika setan ke surga, digoda Siti Hawa untuk memakan buah terlarang “buah quldi”. Setelah Siti Hawa memakan hingga habis, lalu Adam pun digoda Hawa untuk memakan buah tersebut. Di dalam bimbang keraguan Adam turut memakan buah itu. Tidak lama setelah itu maka marahlah Allah SWT. lepaslah seluruh pakaian Adam dan Hawa terlempar keduanya turun ke muka bumi. Adam terlempar ke tanah hindustan dan Hawa terpental ke tanah Syam. Beratus tahun kemudian sambil meratap sepanjang jalan dan menangis memohon ampun diterima taubat Nabi Adam dan dipertemukan Adam dan Hawa di Padang Arafah. Begitulah Qur’an memberitakan, Injil pun turut mengabarkan, taurat dan zabur juga sama.

Oleh orang Bani Israil, kaum yahudi yang terkutuk lalu direndahkanlah orang perempuan. Mereka mengatakan “jika bukan ulah Siti Hawa senanglah kita di surga saat ini”. Bukan itu saja, orang Yahudi berpendapat, sebenarnya Allah menyebut buah quldi hanya sebagai kiasan dari gairah sex dan nafsu. Larangan itulah yang dilanggar. Karena Hawa penyebab semuanya, merengek kepada Adam. Mereka melanjutkan, itulah sebabnya perempuan dikutuk setiap bulan membawa haid darah kotor. Sementara laki-laki hanya dihukum ringan karena buah quldi tidak sampai tertelan, hanya sampai dikerongkongan dan berubah menjadi jakun. Maka hukumannya adalah dibuang sedikit bagian tubuh yaitu sunat rasul namanya.

Padahal sebenarnya nak, sepanjang syarak mengatakan adapun Adam dan Hawa dinikahkan Allah sendiri menjadi wali, Jibril menjadi saksi, dan Syahadat sebagai mahar. Maka ketahuilah nak, tuduhan zina ke Nabi Allah adalah simbol keingkaran, patut hinaan ditimpakan kepada umat paling sombong itulah umat Yahudi yang sampai sekarang masih mengganggu.

Berbeda dengan yahudi, bagi orang pengikut Jesus (Nasrani) wujud sesalan tetap juga ditimpakan kepada kaum perempuan. Hawa tetap sebagai puncak kesalahan sementara Adam hanya khilaf saja. Mungkin itu pula penyebabnya kenapa pastor dilarang menikah, paos dilarang punya istri, uskud menjanda. Jika hendak selamat di dunia dan akhirat jauhi orang perempuan.

Perlu diketahui nak, sejak zaman dahulu masa Romawi dan Yunani perempuan selalu dihina dan direndahkan. Mereka yang cantik diperjualbelikan sementara yang jelek menjadi budak. Begitupun di tempat lain, di Tanah Arab sebelum masuk Islam, hina beranak perempuan karena hanya akan menjadi beban keluarga. Dibawa berperang ia lemah, melihat darah takut, melihat kecoak saja lari. Apabila telah besar jika ia cantik, maka banyak yang akan membelinya dan ujung-ujungnya berakhir dengan peperangan. Maka jika lahir anak laki-laki dirawat dibesarkan, sementara lahir anak perempuan dikubur hidup-hidup jangan sampai kelihatan oleh orang lain.

Beralih ke Tiongkok, jika lahir anak perempuan dipasangkan sepatu besi setelah menikah baru dilepaskan. Sengaja kaki dikecilkan, biar lumpuh sebagian jangan pandai keluar rumah. Karena tugasnya hanya di dapur, sumur, dan kasur. Konon kabarnya di India, jika mati seorang laki-laki mayatnya dibakar dikremasi abunya simpan di dalam guci begitulah cara agamanya. Sementara istri yang ditinggalkan wajib pula terjun ke bara api menjadi abu tanda setia ke suami.

Sementara di Afrika perempuan menjadi tumbal. Jika ada dewa yang marah maka dibujuk dengan gadis cantik dan bencana alam terhindarkan. Sementara di jawa ada pepatah yang artinya “orang perempuan selalu mengikut kemana laki-laki pergi”. Ke surga ikut ke neraka tidak ingin tinggal.

Banyak lagi nak, terlalu banyak kisah dan cerita yang meremehkan kaum wanita sepanjang sejarah manusia. Bahkan hingga saat ini, di era modernisasi, IPTEK keterbukaan, emansipasi diperjuangkan nasibnya belum berubah hanya saja bungkusnya berbeda. Jika dahulu perempuan dijual orang maka sekarang perempuan menjual diri. Jika dahulu untuk orang bangsawan maka saat ini untuk orang banyak, tidak membeli menyewapun boleh.

Ketahuilah nak, sejak insan berada di muka bumi, sepanjang sejarah peradaban hanya dua saja yang menaikkan martabat perempuan, yaitu agama Islam dan adat Minang Kabau. Banyaklah ayat dan hadist tentang memuliakan kaum ibu, diantaranya yang paling populer adalah surga berada di bawah telapak kaki ibu, wanita tiang negara, atau perbandingan derajat antara ibu dan bapak adalah tiga berbanding satu.

Terlebih di dalam adat Minang Kabau nak, perempuan dimuliakan. Garis keturunan diambil dari ibu. Jika tidak ada anak perempuan maka alamat putus keturunan, datuk terbenam, dan harta berpindah tangan. Sebab segala harta pusaka warisnya ke anak perempuan, laki-laki di tanah minang tidak memiliki harta pusaka. Tugasnya hanya merawat, mengembala, membajak, memupuk, mengganti jika telah usang hasilnya untuk perempuan. Begitu adat memberitakan.

Hal itu adalah hak secara lahir nak, jaminan materil ekonomi perempuan tidak boleh ditelantarkan. Lantas bagaimana dibidang moral rohaninya? Hina mulia suatu kaum tergantung perbuatan yang perempuannya. Peperangan bisa berdamai, pembunuhan bisa diberi maaf, rampas dapat dikembalikan. Tapi jika perempuan dibuat malu, janda dibawa orang, gadis berteriak dalam semak, tertutup semua pintu damai. Begitulah mahal harga tinggi martabat perempuan di tanah Miang Kabau.

Mempersingkat cerita nak, ibarat batu permata maka nilai kalian adalah intan yang lengkap jika diikat oleh emas. Maknanya, perempuan di Tanah Minang sangat istimewa dan semakin istimewa jika memakai perhiasan, apa perhiasannya? Yaitu budi nak.

**BERSAMBUNG**

PESAN AYAH UNTUK ANAK LAKI-LAKI (Bagian 5)

Nak, kali ini ingin ayah paparkan siapa yang haram dinikahkan sepanjang hukum syariat islam dan tercela menurut adat minang kabau. Ada 13 perempuang yang tidak boleh dinikahi menurut ajaran agama islam, diantaranya:
1. Ibu kandung, ibu dari ibu, dan ibu dari ayah (nenek kandung)
2. Anak kandung dan keturunannya ke bawah
3. Saudara kandung biarpun se-ibu beda ayah atau se-ayah beda ibu
4. Saudara perempuan ayah
5. Saudara perempuan ibu
6. Anak perempuan dari saudara laki-laki
7. Anak perempuan dari saudara perempuan (keponakan)
8. Ibu yang menyusui juga ibu dari ibu beliau
9. Saudara perempuan sepersusuan serta anak cucunya ke bawah
10. Ibu dari istri (mertua)
11. Istri dari anak “menantu”, walaupun sudah bercerai
12. Anak tiri walaupun ibunya sudah meninggal
13. Saudara perempuan dari istri kecuali tidak dimenantukan.

Itulah orang-orang yang diharamkan untuk dinikahi. Di zaman Rasulullah dan sahabat dilarang mengawini para janda Rasulullah. Selain itu, dilarang mengingini perempuan dalam masa iddah.

Adapun bagi orang Minang Kabau yang beradat sersandi syarak, syarak bersandi kitabullah selain 13 perempuan di atas ada pula 8 perempuan yang berpantang sepanjang adat untuk dinikahi, yaitu:
1. Perempuan yang bersaudarakan ibu
2. Perempuan yang bersaudarakan ayah
3. Janda saudara, kecuali jika sudah meninggal
4. Janda paman, biarpun bercerai hidup atau bercerai mati
5. Janda penghulu dalam suku
6. Sahabat karib ibu
7. Tetangga sebelah rumah
8. Perempuan satu suku

Namun, setiap daerah memiliki larangan yang berbeda. Ada yang lebih dari delapan. Ada yang boleh sepersukuan asalkan penghulunya sudah berbeda. Ada pula perjanjian dua suku yang tidak boleh ambil mengambil atau sebagainya.

Nak, jika kamu telah menikah untuk membuka palang hati dan masuk ke dalam jiwa ada empat larangan yang harus dihindari dan empat suruhan yang harus dipatuhi. Adapun empat larang itu, diantaranya:
1. Jangan pernah menyebut perempuan lain pembanding-banding yang dahulu di hadapan istrimu. Paling sakit bagi perempuan jika ia dibanding-bandingkan nak.
2. Jangan pemuji berterus terang atau mengatakan tidak suka secara blak-blakan. Kalau istri disanjung-sanjung dipuji berterus terang alamat akan tinggi diri dan sombong juga takaburpun menghampirinya nak. Sebaliknya, jika ada yang kurang setuju yang lahir maupun bathin jangan pula berterus terang di depannya karena akan mendatangkan rasa minder terhadap istrimu. Tapi kalau memuji sekilas saja, tidak suka gunakan kata-kata sindiran sambil tertawa.
3. Jangan dilecehkan istri di depan orang ramai apalagi di depan karib kerabat.
4. Jangan ringan tangan (ini yang paling ayah benci). Susah orang tuanya membesarkan diserahkan kepadamu secara baik jangan pula kamu pukuli. Ingat nak, istrimu itu masih banyak yang punya. Punya ibu dan bapaknya, punya kaumnya, punya negara, dan punya Allah SWT. jangan enak-enak saja memukuli. Jika dosanya tidak terampuni, ulahnya melampau batas tidak mungkin dibentuk kembali, serahkan kembali ke ayahnya nak. Tapi jangan disakiti, dipukul-pukul, karena ia bukanlah hewan yang tahan pukul melainkan manusia yang tahan kias. Ingat itu!

Kemudian, adapun suruhan yang empat adalah:

1. Turun tangan jika istri terdesak. Suami disatu pihak dengan istri dibidang lain sudah memiliki bidang kerja dan tugas masing-masing. Suami mencari nafkah, istri mengurus rumah. Jangan seperti gotong royong semua mau dipegang, sumbang dan janggal dipandangi. Akan tetapi, ketika istri kurang sehat, masih lemah karena bersalin, atau kerja terlampau sibuk suami harus turun tangan membantu apa yang bisa dibantu. Mungkin itu menyapu, mencuci piring, atau bahkan menyetrika. Prihatinlah ke istrimu nak, susah jadi perempuan itu. 

2. Sudah menjadi kodrat alam nak, ketika istri mulai mengandung banyak tingkah berubah sifat seketika. Terkadang katanya kita busuk jijik setengah mati, sayang berlebihan tidak boleh suami keluar rumah, kehendaknya tidak masuk akal. Minta es krim di tengah malam, ingin minum susu kuda, macam-macamlah perangainya. Jika bertemu yang seperti itu nak, mesti sabar menghadapinya. Karena itu adalah ujian bagi calon ayah, ibarat pelonco di Mahasiswa. Makanya ayah ingatkan jangan bertengkar, berdebat, bahkan bercerai karena urusan kecil.
3. Ajari ia bergaul dengan ipar bisan dan suruh ia bermasyarakat. Jarang sekali orang yang mampu merukunkan istri dan ibunya. Kenapa demikian? Karena mereka berdua merasa memilikimu dan berebut kasih darimu. Hak ibu rasa teracuhkan karena datang perempuan lain padahal ia yang membesarkan. Istripun merasa memiliki, sepanjang hukum dan syarak, peraturan dan undang-undang suami adalah hak dari istrinya. Keduanya betul nak, sekarang satu daerah dua pemilik. Makanya ayah ingatkan, berpandai-pandailah, adil-adil berdiri di tengah, jangan oleng dengan pendirian, serta pakailah sifat bijaksana. Adakan pendekatan psikologis antara ibu dan istri hanya saja jangan terlalu erat apalagi hidup serumah, pepatah minang mengatakan “arek-arek lungga mangkonyo elok”. Selain itu, cara beripar dan berbisan. Biasakan kunjung mengunjungi supaya terwujud keserasian dalam keluarga besar ipar bisan. Jangan lupa ajari istri bermasyarakat, ikut serta dalam Dharma Wanita, PKK, asalkan bersifat positif lepaslah tetapi tetap monitor dari jauh. Awasi jangan sampai kumat penyakit ibu-ibu. Pertama, pamer memamerkan. Kedua, menggosip menceritakan orang.
4. Selalu bermusyawarah. Laki-laki pemimpin dikeluarga selalu mengambil keputusan, namun jangan mengambil keputusan sendiri, ajak istri bermusyawarah. Mulai dari mengambil keputusan besar seperti membangun rumah atau membuka usaha hingga keputusan kecil seperti memilih warna kain sarung. Semua mesti dengan musyawarah. Bahkan jika anak sudah besar, wajib pula diikutsertakan dalam musyawarah.

InsyaAllah nak, jika empat larangan dan empat suruhan di atas dijalankan dengan baik sejahtera keluargamu nak. Suami teladan kata orang.

Terakhir nak, adapun laki-laki di tanah Minang memikul banyak tanggung jawab. Di samping istri dan anak-anak, ada keponakan, kaum kerabat, juga kampung dan halaman. Pepatang mengatakan

“Kaluak paku asam balimbiang, tampuruang dilenggang-lenggangkan dibaok rang saruaso. Anak dipangku kamanakan dibimbiang, urang kampuang dipatenggangkan tenggang nagari jan binaso.”

Artinya, sementara mengurus rumah tangga kita dituntut secara moral membela karib kerabat dan keponakan, bahkan secara materil jika keadaan memungkinkan. Bermasyarakatpun dijalankan nak, jangan kita hendak hidup sendiri berpikir jika urusan anak istri sudah selesai urusan orang masa bodoh. Orang tua menjanda tidak peduli, keponakan terlantar tidak acuh, pesta orang tidak datang, ada tetangga kemalangan tak dijenguk, gotong royong tidak pernah sekalipun. Jangan nak, ayah tidak suka yang demikian. Jika nanti kamu susah tidak ada pula yang akan peduli.

Mengenai diri ayah jangan terlalu dihiraukan. Selagi masih bergerak tulang ini kalian tidak akan dibebani. Namun, kalau umur singkat ayah berpulang lebih dahulu, jaga ibumu nak, bela ibumu nak urusi dengan seluruh kemampuanmu. Haram lillah ayah tak rela kasih tak izin jika ibumu engkau titip di panti jompo.

Jika tersebut tentang kematian. Terbayang nasib di akhirat cemas ayah memikirkannya. Entah bagaimana di hari esok. Sepanjang kaji yang didengar, hadist yang shahih dari Nabi hanya tiga yang akan menolong nak, yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan do’a anak yang sholeh.

Karena susah sepanjang hari, tidak sempat bersedekah, untuk kalian saja tidak cukup konon pula mengingat orang lain. Disebut ilmu yang diajarkan itulah yang susah sekali, sekolah ayah tidak tamat, mengaji tidak sampai khatam, pengalaman masih kurang. Hanya yang terakhir yang ayah harapkan nak, do’a dari kalian. Kirimi do’a agar lapang dan dimudahkan urusan kubur ayah. Tolong ya nak, tolong. Hanya satu itu permintaan Ayah yang lain kalian tidak berhutang ridha dan maaf mengiringi.

Itulah seluruh pesan ayah nak, kembali kepadamu jika ingin mengamalkan.

SELESAI