Laki-laki Itu Penakut Ya?

Sinar mentari mengintip di sela dedaunan. Induk-induk burung mulai meninggalkan sangkarnya mencari rezeki untuk si buah hati. Udara di Kaki Gunung Singgalang, Sumatera Barat masih sejuk, menjepit kelopak mata pemalas untuk melanjutkan tidurnya. Tapi tidak dengan keluarga Munaroh. Di pagi yang sejuk ini Munaroh telah rapi, menggunakan gamis ungu, berpadu hijab lebar berwana ungu muda yang membungkus setengah badannya, siap menjalani aktivitas rutin sebagai guru honorer di SD yang tidak jauh dari rumah.

Sebelum melangkah menuju tempat mencerdaskan anak bangsa. Munaroh sebagai anak bungsu selalu membantu kakak dan ibunya mempersiapkan sarapan.

“Menu sarapan pagi ini nasi goreng ditemani teh hangat” bisik Ibu kepada Munaroh dan kakak yang tengah beres-beres di dapur.

“Siap Ibu” sambil tersenyum lebar Munaroh menjawab bisikan Ibu.

Munaroh gadis riang yang selalu ceria. Belum lama ini ia menyelesaikan gelar Sarjana pendidikan di Universitas ternama di daerahnya. Sementara Kakak masih sibuk menyelesaikan Tesis S2-nya.

Dengan sekejap menu sarapan pagi itu selesai. Ayah sudah menunggu di meja makan sembari membolak-balikkan halaman koran.

“Sarapan Siap!” Seru Munaroh dengan nada ceria sembari menating teh ke meja makan.

“Wah, cepatnya” sambut Ayah dengan senyum yang merekah. Ayah segera melipat koran dan bersiap memimpin doa makan.

Ketika semua tengah asyik menyantap sarapan, tiba-tiba Munaroh bertanya kepada kakaknya.

“Kak, laki-laki itu penakut ya?”

“Kenapa begitu?” Jawab kakak singkat

“Iya, soalnya Munaroh punya teman yang dekat sama laki-laki, udah di kode untuk ngelamar masih juga nggak mau”

Kakak, Ibu, dan Ayah terus melanjutkan makannya.

“Kalau alasannya nafkah kan bisa sama-sama dicari, bisa bekerja sama sebagai tim untuk memenuhi kebutuhan kan” lanjut Munaroh sambil terus menyantap sarapannya.

“Munaroh” panggil ayah lembut sambil menyelesaikan makannya.

“Kita ini Orang Minang, di Minang perkawinan adalah peristiwa penting dalam kehidupan seseorang. Perkawinan juga bermakna luas di Minangkabau. Bukan hanya sekedar ikatan atau penyatuan antara pengantin laki-laki (marapulai) dengan pengantin perempuan (anak daro). Akan tetapi, perkawinan itu merupakan pertemuan antardua keluarga, dua suku, bahkan dua nagari dan tidak jarang dua daerah. Antara keluarga laki-laki dan keluarga perempuan juga diikat oleh tali ipa bisan, sumando pasumandan, minantu mintuo yang di sebut dengan ikatan kekerabatan. Selain itu, perkawinan juga merupakan pembentukan keluarga baru di samping keluarga yang telah ada.” Jelas Ayah

Munaroh, Kakak, dan Ibu mendengarkan penjelasan Ayah khidmat. Ayah melanjutkan.

“Dengan ikatan perkawinan itu, seorang laki-laki meningkatkan peranannya dari bujang (muda) menjadi dewasa. Ia dianggap dewasa ketika gerbang perkawinan ia masuki. Sejak itu ia akan diberi gelar (gala) menurut adat Minangkabau. Pepatah mengatakan ‘ketek banamo, gadang bagala’. Perempuan juga demikian, status dari gadis (gadih) menjadi status ibu (bundo kanduang). Pepatah Minang mengungkapkan bundo kanduang, limpapeh rumah nan gadang, sumarak dalam nagari, hiasan dalam kampuang, umbun puri pagangan kunci“. Ayah kembali menyeruput tehnya.

“Statusnya di dalam keluarga juga meningkat. Selama ini ia sebagai anak. Setelah perkawinan ia berperan sebagai bapak, sebagai sumando, dan sebagai mamak. Di dalam keluarganya ia menjadi bapak, di dalam keluarga istrinya ia menjadi sumando, sedangkan di keluarga ibunya ia menjadi mamak. Begitulah antara lain luas dan dalamnya makna perkawinan di Minangkabau” Ayah tersenyum menutup penjelasannya.

Munaroh mengangguk-angguk pelan sambil tersenyum menatap ayahnya.

“Sekarang Munaroh paham, ternyata banyak yang harus dipersiapkan bagi seorang laki-laki untuk bisa sampai ke jenjang perkawinan ya Ayah”

“Yap, benar sekali. Mungkin saja laki-laki yang dekat dengan temannya Munaroh itu tengah mempersiapkan dirinya. Karena ayah rasa, tidak ada laki-laki yang penakut hanya saja ia menimbang dan mengingat masih ada tanggung jawabnya sebagai anak yang belum laksanakan, sebagai abang bagi adik-adiknya yang belum ia jalankan, dan sebagai adik dari kakaknya yang harus ia dahulukan”. Ayah menghabiskan tehnya.

“Bu, Jadi dulu, Ayah ngelamar ibu gimana ceritanya?” kakak yang dari tadi menjadi pendengar, mulai bersuara.

Muka Ibu perlahan memerah, Kakak dan Munaroh pun tertawa meilhat ekspresi ibu.

Sadar

Buka mata lebarkan telinga
Dunia panggung sandiwara
Baik belum tentu baik
Jahat belum tentu jahat
Munafik berkedok baik
Baik dituding terbalik

Lidah dengan mudah berdalih
Mata seakan buta dengan yang nyata
Ikhtiar dibiarkan liar
Rabithah dianggap sampah
Siapakah diri yang selalu merasa benar dijalan yang salah?

Ciihhh.. sampah.. sadarlah, hidup hanya sebatas lipatan waktu.

Detik, menit, jam dilipat menjadi hari. Hari, minggu, bulan, dilipat menjadi tahun. Lipatan-lipatan ini terkadang rapi juga tidak jarang kusut.

Ayolaaaaah.. sadar..

Kita butuh perubahan
Perubahan kearah yang lebih baik
Hijrah mencari berkah
Berkah tidak butuh mewah
Kecil indah namun bersejarah

“Jauah bajalan banyak diliek, lamo hiduik banyak diraso” (petitih minang)

[Mutiara Hikmah #6] RACUN HATI

[Sumber Gambar](https://www.google.co.id/search?q=racun+hati&client=ms-android-huawei&prmd=ivn&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=0ahUKEwiW_Pj8wsPcAhXCRo8KHeUqBp0Q_AUICigB&biw=320&bih=454#imgrc=yDYtIyRJ5mQmOM:)

Dear Stemians,

Hati adalah segumpal daging yang apabila segumpal daging itu baik maka baiklah seluruh tubuh ini. Sebaliknya, apabila segumpal daging itu buruk maka buruklah seluruh tubuh ini.

Ada banyak makna kata ‘ hati ‘, diantaranya orang-orang sains mengartikan hati sebagai organ yang berfungsi menyaring racun di dalam tubuh. Sedangkan orang-orang sosial mengartikan hati sebagai alat perasa yang berfungsi mengontrol rasa yang ada di dalam tubuh. Berdasarkan hal itu maka timbullah beberapa istilah seperti ‘ jatuh hati ‘, ‘ sakit hati ‘, ‘ luka hati ‘, ‘ obat hati ‘, dan yang akan sedikit kita kupas pada kesempatan kali ini ‘ racun hati ‘.

Jika obat hati sebelumnya telah kita ketahui melalui senandung yang dilantunkan penyanyi religi ‘ opick ‘. Maka kali ini kita akan mengetahui penyebab hati itu teracuni. Ada istilah yang mengatakan lebih baik mencegah dari pada mengobati.

# Banyak Berbicara
Racun hati yang pertama adalah banyak berbicara. Sebagai makhluk sosial, melalui berbicara manusia melakukan interaksi. Dengan berbicara mampu membuat satu individu dengan individu lainnya saling mengenal. Dan, melalui berbicara jualah mampu terbentuk sebuah kesepakatan, kesimpulan, bahkan keputusan.

Namun, apabila berbicara ini terlalu banyak dilakukan maka timbullah istilah gosip. Membicarakan keburukan orang lain, membicarakan hak yang tidak seharusnya. Hal ini lah yang sedikit demi sedikit menjadi racun bagi hati. Tanpa kita sadari setiap hari kita selalu berbicara, berbicara, dan berbicara. Hasilnya terkadang yang kita bicarakan bukanlah hal yang bermanfaat.

Berdasarkan hal itu maka timbullah istilah “berbicara itu perak dan diam itu emas”.

Sudah kodratnya manusia melakukan sesuatu yang membuat hatinya senang. Unjuk kesenangan hati dapat dilihat dari tawa. Turunan dari banyak berbicara yang mampu meracuni hati bahkan membuat hati mati adalah banyak tertawa. Oleh karena itu, marilah kita gunakan kemampuan berbicara kita ini sebaik-baiknya sehingga mencegah kita meracuni hati kita sendiri.

# Banyak Makan
Racun hati selanjutnya yang tidak kita sadari adalah banyak makan. Dalam sebuah hadist dinyatakan bahwa perut manusia itu dibagi akan tiga. Seperiga berisikan makanan, sepertiga berisikan minuman, dan sepertiga lagi berisikan udara atau nafas.

Rasulullah menganjurkan, makanlah sebelum lapar dan berhentilah sebelum kenyang.

Hal tersebut dianjurkan karena apabila seseorang telah makan terlalu banyak makanan maka akan timbul dalam dirinya sifat malas. Malas karena kekenyangan makanan, bawaannya ingin tidur melulu. Banyak makan mengakibatkan banyak tidur, hari-hari hanya dihabiskan dengan makan dan tidur. Hasilnya perlahan hati kita mulai lelah memproses dan menyaring racun yang masuk ke dalam tubuh kita karena tidak diberikan waktu untuk beristirahat. Atau, secara halus kita telah meracuni hati kita sendiri dengan sesuatu hal yang kita anggap itu nikmat.

# Banyak Melihat
Selanjutnya, racun hati yang juga paling sering dilakukan adalah banyak melihat sesuatu yang telah dilarang. Mata memang diciptakan untuk melihat keindahan dan kekuasaan Allah SWT. namun, Allah membatasi mata kita dalam melihat sesuatu. Mata kita dilarang melihat aurat lawan jenis, melihat film porno, dah sejenisnya. Oleh karena itu ada istilah ‘ jagalah pandanganmu atau tundukkanlah pandanganmu ‘.

Banyak melihat sesuatu yang tidak sewajarnya perlahan membuat kita ketagihan dan rasa ketagihan itulah yang menjadi tetesan racun hitam di dalam hati kita. Setitik demi setitik perlahan-lahan seluruh hati kita menjadi hitam dan mati oleh ulah racun.

# Banyak Bergaul
Salah satu obat hati yang dilantunkan dalam bait senandung lagu opick adalah berkumpul dengan orang-orang sholeh. Kembalikannya, yang menjadi racun dalam hati kita adalah berkumpul dengan mereka yang membuat kita lalai akan kewajiban. Contoh sempurnanya adalah ketika melaksanakan buka bersama di Bulan Ramadhan. Ketika asik berkumpul dan bergaul di waktu berbuka membuat kita lalai melaksankan sholat magrib berjamaah. Ditambahl lagi, oleh ulah rasa tidak enak dengan teman sholat tarawihpun ditunda atau bahkan ditinggalkan. Miris bukan, kita meracuni hati kita sendiri dengan sengaja.

Sahabat stemian, itulah kiranya racun yang selama ini sering kita tabur, rawat, pupuk, serta kita panen dalam hati kita. Hingga tanpa kita sadari hati kita telah mati. Tidak dapat merasakan hal yang sepatutnya kita rasakan.

Oleh karena itu, marilah sejenak kita lihat diri kita racun mana yang sering kita tabur. Dan perlahan mulai mengurangi hingga berhenti menaburnya. Menggantinya dengan obat yang mampu membuatnya bersih lagi sici kembali.


NOTE : tulisan ini dibuat untuk menegur diri penulis secara pribadi dan mengingatkan pembaca secara umum. Semoga bermanfaat. Terimakasih.

[Ruang Fiksi #1] Munaroh (Mantan Terindah)

[Sumber Gambar](https://www.google.co.id/search?client=ms-android-huawei&biw=320&bih=196&tbm=isch&sa=1&ei=vYlWW-GuDoO89QPjv7rYBQ&q=belajar+berdua+&oq=belajar+berdua+&gs_l=mobile-gws-wiz-img.3..0i30.17916.22651..23798…0.0…301.3746.0j14j4j1……0….1………0j35i39j0i8i30j0i5i30.OU-n6pJgEuk#imgrc=YiEXQBhJ2Ba0PM:)

Omar Jabeer Ibnu Katsir itulah namaku. Teman-teman biasa memanggilku dengan sebutan Ojik. Kata mereka namaku terlalu keren, tidak cocok dengan kulitku yang sawo matang dan perawakanku yang culun. Oleh karena itu, mereka mengakronimkan namaku menjadi Ojik agar ala-ala anak desa. Ya, aku sih biasa saja asal tidak diganti dengan nama binatang ataupun hal aneh lainnya.

Nama itu pemberian dari Almarhum ayahku. Terinspirasi dari nama-nama orang arab. Ayah berharap agar aku bisa terus menempuh pendidikan hingga ke tanah Arab dan aku menjadi orang yang terpandang di kampung. Karena di kampungku orang-orang yang lulusan pendidikan di Arab hidupnya sejahtera. Dan, tentunya ayahku juga berharap demikian, hidup anaknya sejahtera tidak seperti hidupnya yang harus bergelimang dengan kemiskinan. Setiap nama adalah doa, setiap doa InsyaAllah akan diijabah. Dan, aku selalu bersyukur telah diberi nama itu oleh Ayahku.

***

Kala itu aku menduduki bangku MAN. Sekolah setara SMA yang mendalami ilmu agama juga umum. Sekolah ini merupakan sekolah yang difavoritkan oleh seluruh remaja di kampungku. Selain mata pelajarannya yang banyak serta lengkap, sekolah itu juga dikenal dengan ekstrakulikulernya yang beraneka ragam. Mulai dari Pramuka, Paskibra, PMR, dan lain sebagainya.

Di sekolah, aku merupakan salah satu siswa yang tergolong rajin. Tidak pernah melakukan pelanggaran. Namun, sering meninggalkan pelajaran karena sibuk berkecimpung dalam berbagai ekstrakulikuler tidak terkecuali OSIS, organisasi intra sekolah yang tidak sembarang orang bisa bergabung di dalamnya. Meninggalkan pelajaran karena di panggil wakil kepala sekolah bidang kesiswaan itu bukan pelanggaran dan terkadang itu menjadi kebanggan tersendiri bagiku.

Akibat kerajinanku aku mulai dikenal oleh seluruh masyarakat sekolah. Mulai dari guru-guru, siswa-siswi, ibuk kantin, bahkan petugas kebersihan sekolah pun turut mengenalku, karena tidak jarang aku membantu ia membuka pagar di pagi hari. “Efek rajin yang sudah kelewat batas, hehehe” gumamku dalam hati.

Sejenak aku berfikir. Mungkinkah ini ijabah dari doa Ayah yang melekat pada namaku? Jika itu benar maka aku tidak boleh mengecewakan ayahku. Aku harus berusaha sekuat dan semampuku

Sebagai siswa yang rajin tidak jarang juga prestasi menghampiriku. Dan hal ini membuat aku semakin dikenali oleh masyarakat kampus. Dan, disinilah kisah asmaraku.

***

Kembali aku dipanggil ke hadapan seluruh siswa-siswi karena berhasil meraih juara 2 dalam perlombaan menulis puisi tingkat kota dengan membawa nama sekolah. Gemuruh repuk tangan mengiringi, tanda apresiasi atas apa yang telah aku peroleh. Namun, aku tidak terlalu senang. Karena hanya menduduki posisi kedua.

“Aku harus berusaha menjadi lebih baik lagi” tekatku tanam dalam hati.

***

Hari ini aku tidak berkumpul dengan teman-temanku. Aku memilih menikmati pemandangan dari tebing sekolahku. Melihat alam lepas sambil terus koreksi diri tanpa melupakan rasa syukur.

Dalam nikmat memandang alam lepas. Aku dikejutkan oleh sosok wanita pemberani yang tiba-tiba duduk tepat disampingku. Selama ini, tidak ada wanita yang berani duduk langsung di sampingku atau berbicara empat mata denganku. Dengar-dengar alasan mereka karena segan terhadapku. “Ya sudahlah, tidak masalah”.

Meski sekolahku berbasis agama, siswa dan siswinya tidak dilarang untuk saling bercengkrama atau duduk berdua asal di tengah keramaian dan bisa dilihat banyak orang. Dan, tentunya membahas sesuatu yang penting

“Ngapain, Sendiri aja?” Tanyanya membuka pembicaraan setelah membuatku terkejut.

Namanya munaroh. Wanita sipit berpipi bulat. Namanya sedikit tidak cocok dengan paras wajahnya yang manis juga ayu mirip gadis keturunan china. Ia juga salah satu primadona yang di puja oleh hampir seluruh siswa disekolahku. Namun tidak termasuk aku. Karena aku cowok polos yang hanya tau sekolah.

“Ada apa?” Tanyaku datar tanpa menjawab pertanyaannya sebelumnya.

Ia hanya tersenyum sembari ikut menatap pemandangan yang ku nikmati. Lima menit tanpa suara. Merasa risih dengan keberadaannya yang mengganggu kesendirianku, akupun bertanya kembali.

“Nggak pulang? Ini kan sudah jamnya pulang sekolah?”

“Nggak, mau nemanin kamu”. Jawabnya singkat sambil terus memandangi alam.

Jesss.. aku tidak mengerti dengan apa yang aku rasakan disaat mendengar jawaban itu. Jantungku berdebar. Semakin tidak nyaman. Aku hanya terdiam kaku, namun hatiku seolah berbicara jutaan bahasa tentang makna kejadian itu.

Aku pernah mendengar temanku bercerita tentang cinta. Katanya cinta itu adalah perasaan yang tidak karuan. Senang, tetapi jantung berdebar. Trus disaat kita dengan orang itu maka akan keluar keringat dingin dan menyebabkan salah tingkah. Dan, itulah yang kurasakan.

Aku berkeringat dan mulai salah tingkah. Sebelumnya tidak ada rasa apa-apa. Hanya berjumpa sekali dan berbicara sepatah dua patah kata rasa itu muncul. “Ah, kampungannya aku” sesalku dalam hati.

***
Keesokan harinya aku mulai biasa dengan rasa ini. Bercengkrama berjalan bahkan bercerita hingga lupa waktu di saat pulang sekolah. Hari demi hari kami lalui, hingga suatu saat aku memberanikan mengungkapkan rasa. Awalnya aku hanya lelaki polos, namun kini aku memberanikan diri memegang tangannya dan menyatakan isi hatiku.

“Munaroh, sejak engkau hadir dalam lamunku hingga kini engkau hadir dalam mimpiku. Hal itu terjadi karena aku suka padamu”. Ucapku polos

“Aku juga” seperti biasa dia pelit berkata-kata. Tapi, aku senang mendengar jawabannya. Bahagia luar biasa, serasa aku menguasai seluruh dunia. Kami pun sah menjadi kekasih tanpa diketahui orang lain.

***

Masa itu telah berlalu. Indah memang. Tiada hari kecuali selalu mengingatkan dan memberi semangat akan apa yang dikerjakan. Disela-sela kesibukkan belajar kelompok kami selalu bergandengan tangan. Kisah sederhana namun berjuta makna bagi orang polos sepertiku. Bahkan ketika mendapat tugas menghafal buku teks kami bergantian menyimak dan mendengarkan lontaran hafalan masing-masing. Tidak lupa tebing sekolah menjadi saksi bisu perjalanan cinta kami.

Kini semua berubah. Aku melanjutkan pendidikan di negeri Arab seperti keinginan Ayahku. Sedangkan Munaroh tetap melanjutkan pendidikan untuk menjadi seorang guru. Kami tidak saling berkomunikasi sejak kami sepakat untuk menyudahi hubungan itu, demi masa depan yang lebih baik.

“Munaroh, semoga engkau baik-baik saja. Terus jadi pensil untuk menuliskan kebahagiaan kepada orang lain. Dan,jangan lupa sesekali menjadi penghapus untuk menghapus kesedihan orang lain. Salam dari Ojik, kertas polos yang telah banyak engkau hiasi oleh goresan pensil kebahagiaan dan engkau hapus dari buramnya kesedihan”.

[Tentang Falchan #2] WISATA DURIAN “MELEPAS PENAT SKRIPSI”

Dear Steemians,

Sebagai mahasiswa tingkat akhir yang paling banyak menguras energi pikiran adalah skripsi. Ya, skripsi. Tugas akhir sebagai syarat sah menyandang gelar sarjana. Banyak yang mengatakan bahwa skripsi tidak sesulit yang dibayangkan. Namun beda orang tentu beda pula yang mereka rasakan. Sulit mudahnya kembali kepada diri yang mengerjakan. Begitulah kira-kira.

Sulit ataupun mudah yang pasti bahwa skripsi tetap menguras energi pikiran yang menyebabkan suatu kepenatan. (Teori dadakan berdasarkan pengalaman :v)

Setelah penat beraktivitas bergulat dengan skripsi, rekreasi atau berwisata adalah pilihan yang baik untuk sejenak melepas segala penat yang bersembunyi di dalam pikiran. Bersama rekan-rekan (4 orang) seperjuangan dalam mengabdi di masyarakat pada program KKN (kuliah kerja nyata) beberapa waktu lalu, kami berangkat berwisata. Tentunya mereka juga tengah bergulat dengan skripsinya.

Tujuan perjalnan kali ini adalah bersilaturahmi ke rumah teman yang juga merupakan anggota kelompok pengabdian beberapa waktu lalu itu. Tak lupa melepas penat menjadi niat terselubung kami dan berburu durian menjadi niat utama di atas niat bersilaturahmi. (:v hehehehe)

# Wisata Durian

Lokasi wisata durian kali ini adalah Buloh Blang Ara, Daerah blang kolam, Kampung Sido Mulyo, Dusun Alue Putroe Manoe, Kabupaten Aceh Utara. Untuk sampai dilokasi tersebut harus melewati sedikit tanjakan dan trunan yang cukup memacu adrenalin. Barisan batu kerikil besar menjadi alas perjalanan kami tentunya. Gempa lokal di atas kendaraan, begitulah gumam kami sambil terus berjalan penuh kehati-hatian.

Setelah sampai dilokasi, senyum tawa pertemana yang beberapa waktu tidak berjumpa perlahan menghapus rasa kekecewaan terhadap jalan. Wisata durian pun dimulai. Barisan pohon durian nan rapi memenuhi setiap sudut kebun. Sungguh pemandangan yang luar biasa.

Tidak lupa, ketika memasuki kebun durian, bau khas dari durian segera menyapa indera penciuman kami. Insting berburu kami pun mulai bangun, mempercepat langkah untuk segera sampai di rangkang yang di tuju.

# Lapak Rangkang

Puas memperhatikan sekitar, kamipun beristirahat di rangkang yang sengaja dibangun oleh pemilik kebun. Rangkang tersebut digunkan sebagai tempat berteduh disiang hari dari panasnya sengatan matahari dan bersembungi dari gigitan dingin malam hari. Tanpa aba-aba ataupun komando kami putuskan inilah lapak kami dalam beberapa jam kedepan. (Lagak bak penguasa :v)

Bercengkrama di rangkang kebun durian bagaikan bercengkrama di lobby hotel bintang lima. Hembusan angin diiringi syahdunya suara gesekan daun dan dentuman durian jatuh adalah suasana kompleks yang mampu melonggarkan ketegangan syaraf otak yang sempat tegang akibat tarikan ketat skripsi.

Ditengah kebun hanya cekikikan tawa kami yang terdengar. Bahkan sampai tupai pun enggan untuk mendekat menyentuh buah durian yang bergantung gagah. Karena salah-salah sentuh buah durian jatuh dan akan menjadi santapan kami. Tupai yang malang, selain salah-salah sentuh tidak dapat makan salah-salah keluar juga nyawanya bisa melayang karena salah satu pemilik kebun selalu bersiaga dengan senapan angin yang siap nelesatkan peluru menembus tubuh si tupai. Bersembunyilah tupai tidak usah keluar, sayangi nyawamu. :v

Beberapa waktu menanti durian tak kunjung jatuh. Dalam sabar kami menunggu dan ‘buuuuk’ bunyi suara durian menghantam tanah. Sontak seluruh kepala menoleh ke sumber bunyi. ‘Taraaa’ ternyata itu berasal dari kebun tetangga yang berada persis di sebelah kebun yang kami kunjungi. ‘Yaaahhh’ tanpa aba-aba kami serentak mengeluh, di susul riak tawa yang memecah kesunyian.

Lelah bercerita, tiba-tiba pemilik rangkang mengeluarkan hasil buruannya tadi malam. Dan, itu adalah rezeki kami. Beberapa buah durian keluar dari tempat persembunyiannya yang sengaja di buat di dalam rangkang. Semua tersenyum lebar. Terimakasih pemilik rangkang. ๐Ÿ™‚

Tanpa basa basi salah seorang dari kami segera meraih parang yang tergelatk di rangkang dan membuka durian-durian tersebut. Akhirnya semua sibuk menikmati buah durian yang diidam-idamkan.

Perjalanan kami pun selesai setelah puas menyantap beberpa buah durian. Rasa terimakasih tidak lupa kami lontarkan kepada pemilik kebun atas apa yang telah disediakan terhadap kami. Jika ada waktu kami akan kembali lagi. ๐Ÿ˜€

Demikianlah perjalan wisata durian dengan berbagai niat terselubung yang kami lakukan. Bagi kamu para pecinta durian, dianjurkan untuk segera melakukan wisata durian agar dapat melepaskan segala rasa yang terpendam. (:v hahaha) nantikan perjalan selanjutnya. ๐Ÿ™‚

[Mutiara Hikmah #5] Motivasi Skripsi

[Sumber Gambar](https://www.google.co.id/search?q=motivasi+skripsi&client=ms-android-huawei&prmd=inv&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=0ahUKEwiolZDq1prcAhUHsI8KHa_bDKgQ_AUICigB&biw=320&bih=454#imgrc=KEk_AXVo8SiSCM:)

Dear Stemians

Sebagai mahasiswa tingkat akhir sering merasakan tidak semangat atau kehilangan semangat dalam menggarap skripsi. Banyak faktor yang menyebabkan hal itu terjadi. Berikut 7 hal yang bisa membuat semangat mengerjakan skripsi kembali :

1. Selalu Ingat Orang Tua

Orang tua bekerja banting tulang untuk membuatmu merasakan jenjang perkuliahan. melihat anaknya wisuda dan menyandang gelar sarjana adalah hal yang membahagiakan bagi mereka.

Setiap tetes keringat orang tuamu menantikan kesuksesanmu. Begitulah ibaratnya besar pengorbanan orang tua serta harapan mereka menantikan kesuksesan anaknya.

Skripsi bukanlah satu hal yang berat. Yang membuatnya berat adalah dirimu sendiri. Semakin malas maka semakin berat rasanya. Ingat kembali orang tua yang telah berjuang keras, jangan biarkan ia kecewa dengan apa yang kamu kerjakan.

2. Jangan Lupakan Umur

Waktu terus berjalan. Detik, menit, jam, hati, minggu, bulan, hingga menjadi tahun tidak terasa terus bergulir. Tiba-tiba, eh udah tahun baru aja ya. Dan, kamu belum tamat. Masih dengan skripsimu yang kamu biarkan.

Ayolah, jangan buang umurmu hanya dengan berjalan di tempat skripsi ini. Tahun tidak akan berhenti berganti jika skripsimu tidak selesai.

Coba deh lihat sekitarmu. Apa yang udah dicapai mereka yang seumuran denganmu? Tidakkah kamu malu dengan diri sendiri. Memang, umur tidak menjadi batasan untuk dapat lulus kuliah. Namun, jika terus menerus dan menjadi kelamaan adik tingkatmu akan semakin banyak. Tidakkah kamu merasakan malu?

Yok semangat ngerjain skripsi, jangan sia-sia kan umur hanya berkutat seputaran skripsi.

3. Perhatikan Temanmu

Kalau mereka bisa, saya pasti bisa. Seharusnya pikiran seperti ini terus tertanam dan tumbuh. Tampa melupakan untuk memperhatikan peluang dan memperbanyak usaha. Mengerjakan skripsi bersama teman juga tidak kalah serunya. Jika suatu ketika terhenti pada satu kalimat bisa langsung bertanya atau meminta tanggapan dari teman tersebut.

Bagi yang belum ngajuin judul, jangan diam saja ketika temanmu sudah mulai ngajuin judul. Lepas belenggu kemalasan apapun alasannya. Karena jika kamu baru ngajuin judul ketika temanmu lulus maka alamat semakin berkurang semangatmu karena temanmu sudah lulus semua dan tidak berada di kampus lagi.

4. Ingat Dosen yang Membimbingmu

Seorang Dosen pembimbing tentunya sangat menginginkan skripsi mahasiswa bimbingannya rampung. Jika tidak selesai-selasai maka kamu akan menjadi beban tersendiri baginya.

Walaupun terkadang seorang dosen sedikit susah untuk ditemuin. Namun, hal itu bukanlah sebuah alasan. Selain menjadi seorang pendidik ia juga mempunyai tugas lain.

Komunikaskan dengan baik dengan dosenmu, InsyaAllah ada kemudahan dalam setiap kesulitan yang kamu hadapi. Oleh karena itu, tetap semangat.

5. Ingat Jurusanmu

Selain empat poin di atas, poin yang ini juga tidak kalah penting. Orang tua, teman, umur, dan dosen tentu tidak ingin kita menyia-nyiakannya. Begitu juga dengan jurusan. Semakin lama tamat maka semakin berat beban yang diberikan kepada jurusan. Karena jumlah mahasiswa yang berhasil menyelesaikan studinya dengan cepat atau tepat waktu tentunya sangat berpengaruh terhadap akreditasi jurusan.

Janganlah menjadi orang yang terus membebani orang sekitar kita. Ayo semangat mengerjakan skripsi. Agar bisa membantu jurusan dalam menaikkan akreditasinya.

6. Bayar Lagi

Semakin lama kamu lulus maka semakin lama kamu bayar uang kuliah. Bagi kamu yang memiliki banyak uang mungkin tidak masalah. Tetapi, bukankah lebih bagus jika kamu cepat lulus dan uangmu bisa dialihkan ke hal lain yang jauh lebih bermanfaat.

Apalagi kamu yang uang kuliahnya masih dibayari orang tua. Tidakkah kamu kasihan terhadap orang tuamu sendiri jika masih harus menbayar uang kuliah karena kamu malas mengerjakan skripsi. Bagi kamu yang bayar sendiri uang kuliahnya, ya nggak masalah nggak lulus-lulus. Cuman ingat lagi alangkah lebih bermanfaat jika cepat lulus dan uang itu dapat dimanfaatkan untuk hal lain.

Ayo! Semangat mengerjakan skripsi.

7. Sukses Menantimu

Menunda kelulusan maka menunda kesuksesan. Agaknya seperti itu hukum sebab akibat yang terjadi apabila terus menunda mengerjakan skripsi. Ingat! Masih banyak impian yang harus dicapai. Sesulit apapun itu teruslah berusaha dan jangan sampai skripsi menjadi alasan penghambat kamu mencapai kesuksesanmu.

Jangan pikirkan dulu setelah tamat mau jadi apa. Yang terpenting selesaikan dulu kuliahmu, karena kesuksesan itu akan datang sendiri melalui usahamu. Jangan khawatir setelah lulus mau ngapain. Yang tidak kalah penting segera selesaikan kuliahmu dan masa depan akan segera dimulai.

Itulah kiranya 7 hal yang dapat meningkatkan semangat dalam mengerjakan skripsi. Jangan tunda lagi. Jika skripsi itu sulit menurutmu, maka rubahlah pola pikirmu hingga mengatakan bahwa skripsi itu tidaklah sulit.

Apapun hambatannya terus berjuang, jangan sampai berhenti di tengah. Karena di balik kesusahan pasti ada kemudahan.. SEMANGAT PARA PEJUANG SKRIPSI !!!

Salam Stemians
——
NOTE:
Tulisan ini dibuat dengan tujuan menjadi cambuk bagi para pejuang skripsi untuk terus berusaha. Terutama untuk diri penulis sendiri yang tengah berada dalam masa penyelesaian skripsi. Karena semangat dalam menulis skripsi juga bagiakan gelombang iman, kadang naik juga tidak jarang turun. Semoga bermanfaat. Terimakasih. ๐Ÿ™‚

[Mutiara Hati #4] MERASA PINTAR

Manusia adalah makhluk yang diciptakan dengan sebaik-baik bentuk. Diciptakan dalam berbagai keragaman, bersuku-suku, berbudaya-budaya, berbangsa-bangsa, dan bernegara-negara. Memiliki akal pikiran untuk menentukan mana yang baik dan mana yang buruk.

Berbicara perkara pikiran mengarahkan kita kepada dua hal. Bodoh dan pintar. Sebagian dari mereka merasa bodoh karena tidak mendapat hasil ujian yang memuaskan atau bahkan tinggal kelas. Sebagian dari mereka juga merasa pintar karena selalu mendapat nilai bagus ketika ujian, dapat menghafal banyak teori, atau lulus dengan predikat terbaik.

Namun sadarkah kita, semua manusia terlahir dalam keadaan pintar. Tidak ada yang bodoh. Karena takaran pintar bukanlah mendapat nilai sempurna ketika ujian atau naik kelas dengan nilai sempurna.

Rasulullah pernah berkata, ada dua ciri seseorang itu dikatakan pintar:

1. Orang yang selalu muhasabah diri
Orang yang selalu muhasabah dari adalah orang yang selalu memperbaiki diri, introspeksi diri. Mencoba melihat kekurangan yang ada pada dirinya dan secara perlahan mempelajari dan mebgubahnya menjadi kebaikan.

Mereka melakukan kesalahan, namun setiap hari berusaha memperbaiki kesalahannya dan berusaha semaksimal mungkin mengulangi kesalahan yang sama.

2. Orang yang beribadah untuk hari setalah kematian
Kodrat manusia diciptakan adalah untuk beribadah kepada Sang Khalik, Sang Pencipta alam semesta. Mengerjakan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Beribadah ikhlas dengan landasan mempersiapkan diri untuk hari setelah kematian. Hari dibangkitkan, hari dikumpulkan di Padang Mahsyar, hari ditimbangnya segala amal, hari diputuskannya masuk surga atau neraka.

Itulah ciri-ciri orang pintar yang sebenarnya. Ia yang sadar bahwa dunia hanya sementara dan akhirat selama-lamanya. Oleh karena itu, jangan pernah merasa pintar jika belum memenuhi dua ciri di atas.

-Self remainder-


 

NOTE:

Photo-photo di atas merupakan dokumentasi kenang-kenangan dari perkumpulan remaja mesjid yang digembleng dengan luar biasa. ๐Ÿ˜€

[Tentang Falchan #1] Hobi Baru : Sketsa Kopi

Dear Stemian,

Awal kata awal cerita mengenal dunia steemit adalah hal yang patut disyukuri. Melalui steemit saya dapat menyalurkan tulisan saya walaupun masih amburadul. Selain itu, rasa saya juga senang ketika ada yang memberi masukan juga kritikan atas apa yang saya tulis di steemit. Ya begitulah kurang lebih perasaan ini.

Seseorang pernah berkata kepada saya,

“Jangan terlalu cepat puas dengan kesuksesan yang dicapai. Teruslah berlajar. Karena kesuksesan itu adalah bagian dari perjalanan hidup. Dan, kesuksesan yang sebenarnya itu akan tercapai ketika kamu meninggal dalam keadaan khusnul khotimah”.

Tentunya hal itu bagaikan cambuk yang menyadarkan diri ini dari lamunan dan menarik diri ini dari keterpurukan akan kepuasan atas suatu pencapaian. Ayolah, jangan terlalu cepat puas masih banyak harus diperbaiki. Kurang lebih seperti itulah jeritan hati ketika tersadar dari lamunan. (:D kok jadi curhat yaa, hehe)

(Kembali ke jalur utama)

Steemit juga menuntut untuk memperkenalkan diri sebelum lancar berselancar di dalamnya. Sedikit tentang saya dapat dilihat pada postingan saya beberapa bulan sebelumnyaย [(klik disini)](https://steemit.com/introducemyself/@goresanpenaanfal/goresan-pena-anfal). Dan, kali ini saya ingin sedikit berbagi hal baru yang saya temui.

Sketsa kopi (_coffee sketch_) namanya. Sebuah karya seni yang merupakan hasil perpaduan tarian pena dan ayunan kuas bertintakan kopi. Berasal dari pertemuan dengan seorang perempuan (saya memanggilnya kak rum) yang dibawa oleh kak zhu (perempuan yang akan merevisi puisi saya). Menurut saya pertemuan itu telah tertulis di lauhul mahfuz sebelumnya, tentunya saya sangat mensyukurinya karenanya saya belajar ilmu baru.

Awalnya mata saya tidak sengaja melihat kelincahan serta kelembutan tangan kak rum menarikan penanya di atas kertas putih, disusul dengan ayunan kuas bertintakan kopi menghasilkan karya yang luar biasa indah dipandang dan nikmat dicium. Karena selain hasil goresan pena yang membentuk suatu objek indah aroma khas dari kopi juga perlahan menyeruak masuk menerobos indra penciuman saya.

Saya terpesona dengan hal yang baru pertama kali saya lihat. Tentu saja saya tidak ingin melewatkan kesempatan untuk mempelajarinya. Langsung dari orang yang menurut saya mempuni di bidangnya.

Karena baru pertama kali melihat, serta tahu akan hal itu, tangan saya sedikit kaku untuk memulainya. Walaupun peralatan lengkap dengan senang hati dipinjamkan oleh kak rum. Hasilnya, lampu taman yang pensiun dini menjadi objek sasaran sketsa kopi pertama saya.

Agaknya masih terlihat kaku apa yang saya buat. Namun, jangan tanyakan seberapa besar rasa syukur di dalam hati saya. Kerena tampa izin dari-Nya apapun yang saya alami tidak mungkin terjadi.

Melalui pertemuan singkat tersebut sebuah jejak yang mungkin akan menjadi pelepas segala rasa di hati saya peroleh. Karena melalui goresan pena (baik berupa rangkaian kata ataupun gambar) saya dapat mengekspresikan segala rasa yang ada di hati.

Salam Stemian

[Mutiara Hikmah #3] AKIBAT KURANG TELITI

[Sumber Gambar](https://www.google.com/search?q=kurang+teliti&prmd=inmv&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=0ahUKEwi2jPjN85HcAhULK48KHSWoBTgQ_AUICigB&biw=320&bih=454#imgdii=6B8TbrgkHE9eGM:&imgrc=Rme8qtTQmn21YM:)

Keseharian wartawan adalah meliput berita, kemudian mengemas sedemikian rupa hingga akhirnya diterbitkan oleh media baik cetak, elektronik, maupun online.

Dalam meliput berita juga banyak hal yang dilalui oleh seorang wartawan. Mulai dari perasaan haru ketika meliput berita bencana alam, bahagia ketika meliput berita Indonesia Juara Piala AFF, dan masih banyak lagi pengalaman hingga kisah yang menempah seorang wartawan menjadi profesional di bidangnya.

Belum lagi tekanan deadline yang seolah-olah menghantui. Berat memang menjadiseorang wartawan yang harus menjadi perpanjangan tangan dalam penyebaran suatu informasi. Oleh karena itu, ketelitian adalah hal mutlak yang harus dilakukan seorang wartawan walaupun berada dalam suatu suasana tertekan yang luar biasa.

Berikut terbentang terpaparkan sebuah kisah akibat kurang teliti dari seorang wartawan yang terdesak deadline untuk mengumpulkan berita.

Gubrak! Terdengar suara yang mengejutkan warga. “Tabrakan… cepat tolong” teriak salah seorang yang berlari menuju lokasi kecelakaan. Seketika ramai orang mengerubungi kejadian tersebut melihat korban serta pelaku tabrakan, tidak lupa berebut mendokumentasikan melalui gawai yang ada digenggaman masong-masing.

Melihat suasana ramai seorang wartawan yang sedang lesu karena belum mendapatkan berita satu harian ini, melonjak semangat, seoalh-olah ada yang menekan tombol “on” pada otaknya mengisyaratkan ini adalah berita yang harus diliput.

Akibat terlalu ramainya orang yang mengerubungi kejadian tersebut. Sang wartawanpun kesusahan untuk dapat mengambil gambar si korban. Berkali-kali mencoba, namun gagal untuk dapat menyelip disela-sela kerumunan.

Mundur satu langkah sembari berpikir. “Aahaa” senyum lebar sang wartawan tanda telah menemukan ide terpancar cerah.

“Ehem.. ehem…” sang wartawan menyetel suaranya.

“Permisi-permisi saya ayah korban, mohon minggir sedikit. Permisi-permisi” sang wartawan mencoba menyisir rapatnya kerumunan.

“Awas, awas” sambil berbisik warga yang berkerumun seolah membuka gerbang barisan agar ayah korban bisa langsung mendekati lokasi kejadian.

Dengan perasaan lega sang wartawan berjalan perlahan mendekati lokasi kejadian. Seraya berfikir bahwa taktiknya berhasil.

Setelah mendekati lokasi sang wartawan terkejut, suara bisikanpun semakin ramai terdengar, ternyata yang menjadi korban kecelakaan adalah seekor anak monyet yang lepas menyebrangi jalan. Dengan perasaan sedikit kikuk wartawanpun meninggalkan lokasi kejadian.

:v hehehe.. tingkatkan ketelitian dan jangan halalkan semua cara untuk mencapai sebuah tujuan.


 

NOTE:ย 

Cerita tersebut merupakan fiksi belaka. Semoga bermanfaat. Terimakasih. ๐Ÿ™‚

[MUTIARA HIKMAH #2] KEKUATAN HARAPAN

Suatu hari seorang pria dari Nanggroe Aceh Darussalam hendak menuju Kendari, Sulawesi Tenggara. Dalam perjalanan, pesawat yang digunakan harus melakukan transit di Ibu Kota Jakarta karena jarang-jarang ada pesawat yang berangkat menuju Kendari. Setibanya di Jakarta, pria tersebut segera melesat mencari penginapan karena waktu semakin senja, pukul 17.00 WIB.

Selesai meletakkan seluruh barangnya pada kamar hotel, ia berjalan keluar menuju lobby melihat-lihat kondisi sekitar dan menikmati sore di kota metropolitan. Tepat di depan hotel, pukul 18.00 WIB. Ia memperhatikan seorang wanita paruhbaya, kira-kira berumur 50 tahun, tengah berdiri diseberang jalan dengan dandanan yang masih segar sambil menghisap rokok. Tak lupa ia selalu menebar senyum kepada siapa saja yang melewatinya.

“Mungkin ia PSK” ujar pria tersebut dalam hatinya. Kemudian ia kembali ke hotel.

Pukul 20.00 WIB. Ia keluar untuk mencari makan malam. Ia terkejut masih melihat wanita yang sama di seberang jalan. Dengan posisi yang tidak berubah, dandanan yang terap fresh, serta sebatang rokok yang setia menemani setiap tebaran senyumnya.

Pukul 22.00 WIB. Ia telah kembali dari berburu kuliner. Cepat-cepat ingin kembali ke hotel karena esok dini hari ia harus segera hengkang dari hotel. Pesawat yang akan ia tunggangi akan melesat tepat pukul 03.00 WIB.

Berjalan terburu-buru, sempat menoleh keseberang jalan dan berhenti karena heran. Apa yang ia lihat beberapa waktu lalu, detik ini ia juga melihat hal yang sama. Seorang wanita, dengan dandanan fresh, sebatang rokok sambil menebar senyuman.

Sadar dari keheranannya ia segera melanjutkan perjalanan ke hotel.
“Jreeeng.. jreeeng..” alarm pukul 02.00 WIB. Berbunyi, tanda ia harus segera berangkat agar tidak tertinggal pesawat.

Keluar dari hotel keheranan pria itu memuncak melihat wanita paruhbaya di seberang jalan yang tak berpindah posisi sedikitpun. Masih memperbaiki dandanannya, sembari menghisap rokok dan tidak lupa untuk terus senyum.

“Ia pasti belum makan, bagaimana kalau kuberikan sedikit uang ini padanya?” Berbagai dugaan hilir mudik di kepalanya. Namun semua dugaan itu ditepis oleh pertimbangan bahwa ia orang baru dan hanya numpang sebentar saja di sebuah hotel yang mungkin tidak akan kesini lagi.

Sepanjang perjalanan menuju bandara ia berpikir. Apa yang menyebabkan wanita paruhbaya tadi sanggup berdiri berjam-jam, menebar senyum tiada henti. Mungkin ia masih akan tetap berdiri hingga matahari terbit esok dan baru kembali kerumahnya setelah jalanan terang.

Hikmah apa yang dapat kita ambil dari cerita singkat di atas? Sudahkan kita menemukan apa faktor yang menyebabkan wanita paruhbaya tadi kuat untuk berdiri dan menebar senyum berjam-jam lamanya?

Pada dasarnya hal yang membuat manusia itu kuat adalah harapan. Begitu juga dengan wanita paruhbaya itu. Ia kuat karena setiap detiknya, setiap senyuman yang dilontarkan ada yang tertarik dan mengajaknya kencan. Ada yang tergoda dan mengajaknya jalan. Setiap pergantian waktu harapan itu terus muncul dikepalanya sehingga ia terus berusaha mewujudkan harapan itu.

Mungkin tidak hanya hari itu saja, hari sebelum itu. Bisa jadi minggu, bulan, tahun, atau puluhan tahun lamanya ia melaksankan kegiatan itu dengan bermodalkan harapan yang sama.

Pertanyaan selanjutnya, apakah wanita paruhbaya tersebut akan berhenti jika malam itu tidak ada yang menghampirinya dan mengajaknya kencan? Tentu tidak, dikemudian hari ia akan terus coba lagi, coba lagi, dan coba lagi hingga waktu yang tak ditentukan.

Contoh lain bisa kita lihat dari nelayan. Seorang nelayan yang berhari-hari di laut, ketika kembali harapannya memperoleh ikan tidak tercapai akankah ia berhenti ke laut dan tidak lagi menjadi seorang nelayan? Tidak, tentu tidak. Karena ia akan kembali esok, esok, hingga waktu yang tidak ditentukan juga.

Jika kekuatan harapan mampu menepis lelah, letih, juga lesu seperti PSK paruhbaya yang berharap akan ada yang mengajaknya kencan. Atau seperti nelayan yang berharap akan keadaan agar esok ia bisa memperoleh banyak ikan. Maka teruslah berharap. Namun jangan letakkan harapan kepada manusia ataupun keadaan. Sandarkanlah harapan kepada-Nya Yang Maha Memberi. Allah SWT.


NOTE:

Tulisan ini dibuat agar menjadi bahan introspeksi penulis secara pribadi dan seluruh pembaca secara umum. Semoga bermanfaat. Terimakasih. ๐Ÿ™‚