Laki-laki Itu Penakut Ya?

Sinar mentari mengintip di sela dedaunan. Induk-induk burung mulai meninggalkan sangkarnya mencari rezeki untuk si buah hati. Udara di Kaki Gunung Singgalang, Sumatera Barat masih sejuk, menjepit kelopak mata pemalas untuk melanjutkan tidurnya. Tapi tidak dengan keluarga Munaroh. Di pagi yang sejuk ini Munaroh telah rapi, menggunakan gamis ungu, berpadu hijab lebar berwana ungu muda yang membungkus setengah badannya, siap menjalani aktivitas rutin sebagai guru honorer di SD yang tidak jauh dari rumah.

Sebelum melangkah menuju tempat mencerdaskan anak bangsa. Munaroh sebagai anak bungsu selalu membantu kakak dan ibunya mempersiapkan sarapan.

“Menu sarapan pagi ini nasi goreng ditemani teh hangat” bisik Ibu kepada Munaroh dan kakak yang tengah beres-beres di dapur.

“Siap Ibu” sambil tersenyum lebar Munaroh menjawab bisikan Ibu.

Munaroh gadis riang yang selalu ceria. Belum lama ini ia menyelesaikan gelar Sarjana pendidikan di Universitas ternama di daerahnya. Sementara Kakak masih sibuk menyelesaikan Tesis S2-nya.

Dengan sekejap menu sarapan pagi itu selesai. Ayah sudah menunggu di meja makan sembari membolak-balikkan halaman koran.

“Sarapan Siap!” Seru Munaroh dengan nada ceria sembari menating teh ke meja makan.

“Wah, cepatnya” sambut Ayah dengan senyum yang merekah. Ayah segera melipat koran dan bersiap memimpin doa makan.

Ketika semua tengah asyik menyantap sarapan, tiba-tiba Munaroh bertanya kepada kakaknya.

“Kak, laki-laki itu penakut ya?”

“Kenapa begitu?” Jawab kakak singkat

“Iya, soalnya Munaroh punya teman yang dekat sama laki-laki, udah di kode untuk ngelamar masih juga nggak mau”

Kakak, Ibu, dan Ayah terus melanjutkan makannya.

“Kalau alasannya nafkah kan bisa sama-sama dicari, bisa bekerja sama sebagai tim untuk memenuhi kebutuhan kan” lanjut Munaroh sambil terus menyantap sarapannya.

“Munaroh” panggil ayah lembut sambil menyelesaikan makannya.

“Kita ini Orang Minang, di Minang perkawinan adalah peristiwa penting dalam kehidupan seseorang. Perkawinan juga bermakna luas di Minangkabau. Bukan hanya sekedar ikatan atau penyatuan antara pengantin laki-laki (marapulai) dengan pengantin perempuan (anak daro). Akan tetapi, perkawinan itu merupakan pertemuan antardua keluarga, dua suku, bahkan dua nagari dan tidak jarang dua daerah. Antara keluarga laki-laki dan keluarga perempuan juga diikat oleh tali ipa bisan, sumando pasumandan, minantu mintuo yang di sebut dengan ikatan kekerabatan. Selain itu, perkawinan juga merupakan pembentukan keluarga baru di samping keluarga yang telah ada.” Jelas Ayah

Munaroh, Kakak, dan Ibu mendengarkan penjelasan Ayah khidmat. Ayah melanjutkan.

“Dengan ikatan perkawinan itu, seorang laki-laki meningkatkan peranannya dari bujang (muda) menjadi dewasa. Ia dianggap dewasa ketika gerbang perkawinan ia masuki. Sejak itu ia akan diberi gelar (gala) menurut adat Minangkabau. Pepatah mengatakan ‘ketek banamo, gadang bagala’. Perempuan juga demikian, status dari gadis (gadih) menjadi status ibu (bundo kanduang). Pepatah Minang mengungkapkan bundo kanduang, limpapeh rumah nan gadang, sumarak dalam nagari, hiasan dalam kampuang, umbun puri pagangan kunci“. Ayah kembali menyeruput tehnya.

“Statusnya di dalam keluarga juga meningkat. Selama ini ia sebagai anak. Setelah perkawinan ia berperan sebagai bapak, sebagai sumando, dan sebagai mamak. Di dalam keluarganya ia menjadi bapak, di dalam keluarga istrinya ia menjadi sumando, sedangkan di keluarga ibunya ia menjadi mamak. Begitulah antara lain luas dan dalamnya makna perkawinan di Minangkabau” Ayah tersenyum menutup penjelasannya.

Munaroh mengangguk-angguk pelan sambil tersenyum menatap ayahnya.

“Sekarang Munaroh paham, ternyata banyak yang harus dipersiapkan bagi seorang laki-laki untuk bisa sampai ke jenjang perkawinan ya Ayah”

“Yap, benar sekali. Mungkin saja laki-laki yang dekat dengan temannya Munaroh itu tengah mempersiapkan dirinya. Karena ayah rasa, tidak ada laki-laki yang penakut hanya saja ia menimbang dan mengingat masih ada tanggung jawabnya sebagai anak yang belum laksanakan, sebagai abang bagi adik-adiknya yang belum ia jalankan, dan sebagai adik dari kakaknya yang harus ia dahulukan”. Ayah menghabiskan tehnya.

“Bu, Jadi dulu, Ayah ngelamar ibu gimana ceritanya?” kakak yang dari tadi menjadi pendengar, mulai bersuara.

Muka Ibu perlahan memerah, Kakak dan Munaroh pun tertawa meilhat ekspresi ibu.