[Mutiara Hikmah #6] RACUN HATI

[Sumber Gambar](https://www.google.co.id/search?q=racun+hati&client=ms-android-huawei&prmd=ivn&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=0ahUKEwiW_Pj8wsPcAhXCRo8KHeUqBp0Q_AUICigB&biw=320&bih=454#imgrc=yDYtIyRJ5mQmOM:)

Dear Stemians,

Hati adalah segumpal daging yang apabila segumpal daging itu baik maka baiklah seluruh tubuh ini. Sebaliknya, apabila segumpal daging itu buruk maka buruklah seluruh tubuh ini.

Ada banyak makna kata ‘ hati ‘, diantaranya orang-orang sains mengartikan hati sebagai organ yang berfungsi menyaring racun di dalam tubuh. Sedangkan orang-orang sosial mengartikan hati sebagai alat perasa yang berfungsi mengontrol rasa yang ada di dalam tubuh. Berdasarkan hal itu maka timbullah beberapa istilah seperti ‘ jatuh hati ‘, ‘ sakit hati ‘, ‘ luka hati ‘, ‘ obat hati ‘, dan yang akan sedikit kita kupas pada kesempatan kali ini ‘ racun hati ‘.

Jika obat hati sebelumnya telah kita ketahui melalui senandung yang dilantunkan penyanyi religi ‘ opick ‘. Maka kali ini kita akan mengetahui penyebab hati itu teracuni. Ada istilah yang mengatakan lebih baik mencegah dari pada mengobati.

# Banyak Berbicara
Racun hati yang pertama adalah banyak berbicara. Sebagai makhluk sosial, melalui berbicara manusia melakukan interaksi. Dengan berbicara mampu membuat satu individu dengan individu lainnya saling mengenal. Dan, melalui berbicara jualah mampu terbentuk sebuah kesepakatan, kesimpulan, bahkan keputusan.

Namun, apabila berbicara ini terlalu banyak dilakukan maka timbullah istilah gosip. Membicarakan keburukan orang lain, membicarakan hak yang tidak seharusnya. Hal ini lah yang sedikit demi sedikit menjadi racun bagi hati. Tanpa kita sadari setiap hari kita selalu berbicara, berbicara, dan berbicara. Hasilnya terkadang yang kita bicarakan bukanlah hal yang bermanfaat.

Berdasarkan hal itu maka timbullah istilah “berbicara itu perak dan diam itu emas”.

Sudah kodratnya manusia melakukan sesuatu yang membuat hatinya senang. Unjuk kesenangan hati dapat dilihat dari tawa. Turunan dari banyak berbicara yang mampu meracuni hati bahkan membuat hati mati adalah banyak tertawa. Oleh karena itu, marilah kita gunakan kemampuan berbicara kita ini sebaik-baiknya sehingga mencegah kita meracuni hati kita sendiri.

# Banyak Makan
Racun hati selanjutnya yang tidak kita sadari adalah banyak makan. Dalam sebuah hadist dinyatakan bahwa perut manusia itu dibagi akan tiga. Seperiga berisikan makanan, sepertiga berisikan minuman, dan sepertiga lagi berisikan udara atau nafas.

Rasulullah menganjurkan, makanlah sebelum lapar dan berhentilah sebelum kenyang.

Hal tersebut dianjurkan karena apabila seseorang telah makan terlalu banyak makanan maka akan timbul dalam dirinya sifat malas. Malas karena kekenyangan makanan, bawaannya ingin tidur melulu. Banyak makan mengakibatkan banyak tidur, hari-hari hanya dihabiskan dengan makan dan tidur. Hasilnya perlahan hati kita mulai lelah memproses dan menyaring racun yang masuk ke dalam tubuh kita karena tidak diberikan waktu untuk beristirahat. Atau, secara halus kita telah meracuni hati kita sendiri dengan sesuatu hal yang kita anggap itu nikmat.

# Banyak Melihat
Selanjutnya, racun hati yang juga paling sering dilakukan adalah banyak melihat sesuatu yang telah dilarang. Mata memang diciptakan untuk melihat keindahan dan kekuasaan Allah SWT. namun, Allah membatasi mata kita dalam melihat sesuatu. Mata kita dilarang melihat aurat lawan jenis, melihat film porno, dah sejenisnya. Oleh karena itu ada istilah ‘ jagalah pandanganmu atau tundukkanlah pandanganmu ‘.

Banyak melihat sesuatu yang tidak sewajarnya perlahan membuat kita ketagihan dan rasa ketagihan itulah yang menjadi tetesan racun hitam di dalam hati kita. Setitik demi setitik perlahan-lahan seluruh hati kita menjadi hitam dan mati oleh ulah racun.

# Banyak Bergaul
Salah satu obat hati yang dilantunkan dalam bait senandung lagu opick adalah berkumpul dengan orang-orang sholeh. Kembalikannya, yang menjadi racun dalam hati kita adalah berkumpul dengan mereka yang membuat kita lalai akan kewajiban. Contoh sempurnanya adalah ketika melaksanakan buka bersama di Bulan Ramadhan. Ketika asik berkumpul dan bergaul di waktu berbuka membuat kita lalai melaksankan sholat magrib berjamaah. Ditambahl lagi, oleh ulah rasa tidak enak dengan teman sholat tarawihpun ditunda atau bahkan ditinggalkan. Miris bukan, kita meracuni hati kita sendiri dengan sengaja.

Sahabat stemian, itulah kiranya racun yang selama ini sering kita tabur, rawat, pupuk, serta kita panen dalam hati kita. Hingga tanpa kita sadari hati kita telah mati. Tidak dapat merasakan hal yang sepatutnya kita rasakan.

Oleh karena itu, marilah sejenak kita lihat diri kita racun mana yang sering kita tabur. Dan perlahan mulai mengurangi hingga berhenti menaburnya. Menggantinya dengan obat yang mampu membuatnya bersih lagi sici kembali.


NOTE : tulisan ini dibuat untuk menegur diri penulis secara pribadi dan mengingatkan pembaca secara umum. Semoga bermanfaat. Terimakasih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *