[Ruang Fiksi #1] Munaroh (Mantan Terindah)

[Sumber Gambar](https://www.google.co.id/search?client=ms-android-huawei&biw=320&bih=196&tbm=isch&sa=1&ei=vYlWW-GuDoO89QPjv7rYBQ&q=belajar+berdua+&oq=belajar+berdua+&gs_l=mobile-gws-wiz-img.3..0i30.17916.22651..23798…0.0…301.3746.0j14j4j1……0….1………0j35i39j0i8i30j0i5i30.OU-n6pJgEuk#imgrc=YiEXQBhJ2Ba0PM:)

Omar Jabeer Ibnu Katsir itulah namaku. Teman-teman biasa memanggilku dengan sebutan Ojik. Kata mereka namaku terlalu keren, tidak cocok dengan kulitku yang sawo matang dan perawakanku yang culun. Oleh karena itu, mereka mengakronimkan namaku menjadi Ojik agar ala-ala anak desa. Ya, aku sih biasa saja asal tidak diganti dengan nama binatang ataupun hal aneh lainnya.

Nama itu pemberian dari Almarhum ayahku. Terinspirasi dari nama-nama orang arab. Ayah berharap agar aku bisa terus menempuh pendidikan hingga ke tanah Arab dan aku menjadi orang yang terpandang di kampung. Karena di kampungku orang-orang yang lulusan pendidikan di Arab hidupnya sejahtera. Dan, tentunya ayahku juga berharap demikian, hidup anaknya sejahtera tidak seperti hidupnya yang harus bergelimang dengan kemiskinan. Setiap nama adalah doa, setiap doa InsyaAllah akan diijabah. Dan, aku selalu bersyukur telah diberi nama itu oleh Ayahku.

***

Kala itu aku menduduki bangku MAN. Sekolah setara SMA yang mendalami ilmu agama juga umum. Sekolah ini merupakan sekolah yang difavoritkan oleh seluruh remaja di kampungku. Selain mata pelajarannya yang banyak serta lengkap, sekolah itu juga dikenal dengan ekstrakulikulernya yang beraneka ragam. Mulai dari Pramuka, Paskibra, PMR, dan lain sebagainya.

Di sekolah, aku merupakan salah satu siswa yang tergolong rajin. Tidak pernah melakukan pelanggaran. Namun, sering meninggalkan pelajaran karena sibuk berkecimpung dalam berbagai ekstrakulikuler tidak terkecuali OSIS, organisasi intra sekolah yang tidak sembarang orang bisa bergabung di dalamnya. Meninggalkan pelajaran karena di panggil wakil kepala sekolah bidang kesiswaan itu bukan pelanggaran dan terkadang itu menjadi kebanggan tersendiri bagiku.

Akibat kerajinanku aku mulai dikenal oleh seluruh masyarakat sekolah. Mulai dari guru-guru, siswa-siswi, ibuk kantin, bahkan petugas kebersihan sekolah pun turut mengenalku, karena tidak jarang aku membantu ia membuka pagar di pagi hari. “Efek rajin yang sudah kelewat batas, hehehe” gumamku dalam hati.

Sejenak aku berfikir. Mungkinkah ini ijabah dari doa Ayah yang melekat pada namaku? Jika itu benar maka aku tidak boleh mengecewakan ayahku. Aku harus berusaha sekuat dan semampuku

Sebagai siswa yang rajin tidak jarang juga prestasi menghampiriku. Dan hal ini membuat aku semakin dikenali oleh masyarakat kampus. Dan, disinilah kisah asmaraku.

***

Kembali aku dipanggil ke hadapan seluruh siswa-siswi karena berhasil meraih juara 2 dalam perlombaan menulis puisi tingkat kota dengan membawa nama sekolah. Gemuruh repuk tangan mengiringi, tanda apresiasi atas apa yang telah aku peroleh. Namun, aku tidak terlalu senang. Karena hanya menduduki posisi kedua.

“Aku harus berusaha menjadi lebih baik lagi” tekatku tanam dalam hati.

***

Hari ini aku tidak berkumpul dengan teman-temanku. Aku memilih menikmati pemandangan dari tebing sekolahku. Melihat alam lepas sambil terus koreksi diri tanpa melupakan rasa syukur.

Dalam nikmat memandang alam lepas. Aku dikejutkan oleh sosok wanita pemberani yang tiba-tiba duduk tepat disampingku. Selama ini, tidak ada wanita yang berani duduk langsung di sampingku atau berbicara empat mata denganku. Dengar-dengar alasan mereka karena segan terhadapku. “Ya sudahlah, tidak masalah”.

Meski sekolahku berbasis agama, siswa dan siswinya tidak dilarang untuk saling bercengkrama atau duduk berdua asal di tengah keramaian dan bisa dilihat banyak orang. Dan, tentunya membahas sesuatu yang penting

“Ngapain, Sendiri aja?” Tanyanya membuka pembicaraan setelah membuatku terkejut.

Namanya munaroh. Wanita sipit berpipi bulat. Namanya sedikit tidak cocok dengan paras wajahnya yang manis juga ayu mirip gadis keturunan china. Ia juga salah satu primadona yang di puja oleh hampir seluruh siswa disekolahku. Namun tidak termasuk aku. Karena aku cowok polos yang hanya tau sekolah.

“Ada apa?” Tanyaku datar tanpa menjawab pertanyaannya sebelumnya.

Ia hanya tersenyum sembari ikut menatap pemandangan yang ku nikmati. Lima menit tanpa suara. Merasa risih dengan keberadaannya yang mengganggu kesendirianku, akupun bertanya kembali.

“Nggak pulang? Ini kan sudah jamnya pulang sekolah?”

“Nggak, mau nemanin kamu”. Jawabnya singkat sambil terus memandangi alam.

Jesss.. aku tidak mengerti dengan apa yang aku rasakan disaat mendengar jawaban itu. Jantungku berdebar. Semakin tidak nyaman. Aku hanya terdiam kaku, namun hatiku seolah berbicara jutaan bahasa tentang makna kejadian itu.

Aku pernah mendengar temanku bercerita tentang cinta. Katanya cinta itu adalah perasaan yang tidak karuan. Senang, tetapi jantung berdebar. Trus disaat kita dengan orang itu maka akan keluar keringat dingin dan menyebabkan salah tingkah. Dan, itulah yang kurasakan.

Aku berkeringat dan mulai salah tingkah. Sebelumnya tidak ada rasa apa-apa. Hanya berjumpa sekali dan berbicara sepatah dua patah kata rasa itu muncul. “Ah, kampungannya aku” sesalku dalam hati.

***
Keesokan harinya aku mulai biasa dengan rasa ini. Bercengkrama berjalan bahkan bercerita hingga lupa waktu di saat pulang sekolah. Hari demi hari kami lalui, hingga suatu saat aku memberanikan mengungkapkan rasa. Awalnya aku hanya lelaki polos, namun kini aku memberanikan diri memegang tangannya dan menyatakan isi hatiku.

“Munaroh, sejak engkau hadir dalam lamunku hingga kini engkau hadir dalam mimpiku. Hal itu terjadi karena aku suka padamu”. Ucapku polos

“Aku juga” seperti biasa dia pelit berkata-kata. Tapi, aku senang mendengar jawabannya. Bahagia luar biasa, serasa aku menguasai seluruh dunia. Kami pun sah menjadi kekasih tanpa diketahui orang lain.

***

Masa itu telah berlalu. Indah memang. Tiada hari kecuali selalu mengingatkan dan memberi semangat akan apa yang dikerjakan. Disela-sela kesibukkan belajar kelompok kami selalu bergandengan tangan. Kisah sederhana namun berjuta makna bagi orang polos sepertiku. Bahkan ketika mendapat tugas menghafal buku teks kami bergantian menyimak dan mendengarkan lontaran hafalan masing-masing. Tidak lupa tebing sekolah menjadi saksi bisu perjalanan cinta kami.

Kini semua berubah. Aku melanjutkan pendidikan di negeri Arab seperti keinginan Ayahku. Sedangkan Munaroh tetap melanjutkan pendidikan untuk menjadi seorang guru. Kami tidak saling berkomunikasi sejak kami sepakat untuk menyudahi hubungan itu, demi masa depan yang lebih baik.

“Munaroh, semoga engkau baik-baik saja. Terus jadi pensil untuk menuliskan kebahagiaan kepada orang lain. Dan,jangan lupa sesekali menjadi penghapus untuk menghapus kesedihan orang lain. Salam dari Ojik, kertas polos yang telah banyak engkau hiasi oleh goresan pensil kebahagiaan dan engkau hapus dari buramnya kesedihan”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *