[Tentang Falchan #1] Hobi Baru : Sketsa Kopi

Dear Stemian,

Awal kata awal cerita mengenal dunia steemit adalah hal yang patut disyukuri. Melalui steemit saya dapat menyalurkan tulisan saya walaupun masih amburadul. Selain itu, rasa saya juga senang ketika ada yang memberi masukan juga kritikan atas apa yang saya tulis di steemit. Ya begitulah kurang lebih perasaan ini.

Seseorang pernah berkata kepada saya,

“Jangan terlalu cepat puas dengan kesuksesan yang dicapai. Teruslah berlajar. Karena kesuksesan itu adalah bagian dari perjalanan hidup. Dan, kesuksesan yang sebenarnya itu akan tercapai ketika kamu meninggal dalam keadaan khusnul khotimah”.

Tentunya hal itu bagaikan cambuk yang menyadarkan diri ini dari lamunan dan menarik diri ini dari keterpurukan akan kepuasan atas suatu pencapaian. Ayolah, jangan terlalu cepat puas masih banyak harus diperbaiki. Kurang lebih seperti itulah jeritan hati ketika tersadar dari lamunan. (:D kok jadi curhat yaa, hehe)

(Kembali ke jalur utama)

Steemit juga menuntut untuk memperkenalkan diri sebelum lancar berselancar di dalamnya. Sedikit tentang saya dapat dilihat pada postingan saya beberapa bulan sebelumnya [(klik disini)](https://steemit.com/introducemyself/@goresanpenaanfal/goresan-pena-anfal). Dan, kali ini saya ingin sedikit berbagi hal baru yang saya temui.

Sketsa kopi (_coffee sketch_) namanya. Sebuah karya seni yang merupakan hasil perpaduan tarian pena dan ayunan kuas bertintakan kopi. Berasal dari pertemuan dengan seorang perempuan (saya memanggilnya kak rum) yang dibawa oleh kak zhu (perempuan yang akan merevisi puisi saya). Menurut saya pertemuan itu telah tertulis di lauhul mahfuz sebelumnya, tentunya saya sangat mensyukurinya karenanya saya belajar ilmu baru.

Awalnya mata saya tidak sengaja melihat kelincahan serta kelembutan tangan kak rum menarikan penanya di atas kertas putih, disusul dengan ayunan kuas bertintakan kopi menghasilkan karya yang luar biasa indah dipandang dan nikmat dicium. Karena selain hasil goresan pena yang membentuk suatu objek indah aroma khas dari kopi juga perlahan menyeruak masuk menerobos indra penciuman saya.

Saya terpesona dengan hal yang baru pertama kali saya lihat. Tentu saja saya tidak ingin melewatkan kesempatan untuk mempelajarinya. Langsung dari orang yang menurut saya mempuni di bidangnya.

Karena baru pertama kali melihat, serta tahu akan hal itu, tangan saya sedikit kaku untuk memulainya. Walaupun peralatan lengkap dengan senang hati dipinjamkan oleh kak rum. Hasilnya, lampu taman yang pensiun dini menjadi objek sasaran sketsa kopi pertama saya.

Agaknya masih terlihat kaku apa yang saya buat. Namun, jangan tanyakan seberapa besar rasa syukur di dalam hati saya. Kerena tampa izin dari-Nya apapun yang saya alami tidak mungkin terjadi.

Melalui pertemuan singkat tersebut sebuah jejak yang mungkin akan menjadi pelepas segala rasa di hati saya peroleh. Karena melalui goresan pena (baik berupa rangkaian kata ataupun gambar) saya dapat mengekspresikan segala rasa yang ada di hati.

Salam Stemian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *