[Mutiara Hikmah #3] AKIBAT KURANG TELITI

[Sumber Gambar](https://www.google.com/search?q=kurang+teliti&prmd=inmv&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=0ahUKEwi2jPjN85HcAhULK48KHSWoBTgQ_AUICigB&biw=320&bih=454#imgdii=6B8TbrgkHE9eGM:&imgrc=Rme8qtTQmn21YM:)

Keseharian wartawan adalah meliput berita, kemudian mengemas sedemikian rupa hingga akhirnya diterbitkan oleh media baik cetak, elektronik, maupun online.

Dalam meliput berita juga banyak hal yang dilalui oleh seorang wartawan. Mulai dari perasaan haru ketika meliput berita bencana alam, bahagia ketika meliput berita Indonesia Juara Piala AFF, dan masih banyak lagi pengalaman hingga kisah yang menempah seorang wartawan menjadi profesional di bidangnya.

Belum lagi tekanan deadline yang seolah-olah menghantui. Berat memang menjadiseorang wartawan yang harus menjadi perpanjangan tangan dalam penyebaran suatu informasi. Oleh karena itu, ketelitian adalah hal mutlak yang harus dilakukan seorang wartawan walaupun berada dalam suatu suasana tertekan yang luar biasa.

Berikut terbentang terpaparkan sebuah kisah akibat kurang teliti dari seorang wartawan yang terdesak deadline untuk mengumpulkan berita.

Gubrak! Terdengar suara yang mengejutkan warga. “Tabrakan… cepat tolong” teriak salah seorang yang berlari menuju lokasi kecelakaan. Seketika ramai orang mengerubungi kejadian tersebut melihat korban serta pelaku tabrakan, tidak lupa berebut mendokumentasikan melalui gawai yang ada digenggaman masong-masing.

Melihat suasana ramai seorang wartawan yang sedang lesu karena belum mendapatkan berita satu harian ini, melonjak semangat, seoalh-olah ada yang menekan tombol “on” pada otaknya mengisyaratkan ini adalah berita yang harus diliput.

Akibat terlalu ramainya orang yang mengerubungi kejadian tersebut. Sang wartawanpun kesusahan untuk dapat mengambil gambar si korban. Berkali-kali mencoba, namun gagal untuk dapat menyelip disela-sela kerumunan.

Mundur satu langkah sembari berpikir. “Aahaa” senyum lebar sang wartawan tanda telah menemukan ide terpancar cerah.

“Ehem.. ehem…” sang wartawan menyetel suaranya.

“Permisi-permisi saya ayah korban, mohon minggir sedikit. Permisi-permisi” sang wartawan mencoba menyisir rapatnya kerumunan.

“Awas, awas” sambil berbisik warga yang berkerumun seolah membuka gerbang barisan agar ayah korban bisa langsung mendekati lokasi kejadian.

Dengan perasaan lega sang wartawan berjalan perlahan mendekati lokasi kejadian. Seraya berfikir bahwa taktiknya berhasil.

Setelah mendekati lokasi sang wartawan terkejut, suara bisikanpun semakin ramai terdengar, ternyata yang menjadi korban kecelakaan adalah seekor anak monyet yang lepas menyebrangi jalan. Dengan perasaan sedikit kikuk wartawanpun meninggalkan lokasi kejadian.

:v hehehe.. tingkatkan ketelitian dan jangan halalkan semua cara untuk mencapai sebuah tujuan.


 

NOTE: 

Cerita tersebut merupakan fiksi belaka. Semoga bermanfaat. Terimakasih. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *