[MUTIARA HIKMAH #2] KEKUATAN HARAPAN

Suatu hari seorang pria dari Nanggroe Aceh Darussalam hendak menuju Kendari, Sulawesi Tenggara. Dalam perjalanan, pesawat yang digunakan harus melakukan transit di Ibu Kota Jakarta karena jarang-jarang ada pesawat yang berangkat menuju Kendari. Setibanya di Jakarta, pria tersebut segera melesat mencari penginapan karena waktu semakin senja, pukul 17.00 WIB.

Selesai meletakkan seluruh barangnya pada kamar hotel, ia berjalan keluar menuju lobby melihat-lihat kondisi sekitar dan menikmati sore di kota metropolitan. Tepat di depan hotel, pukul 18.00 WIB. Ia memperhatikan seorang wanita paruhbaya, kira-kira berumur 50 tahun, tengah berdiri diseberang jalan dengan dandanan yang masih segar sambil menghisap rokok. Tak lupa ia selalu menebar senyum kepada siapa saja yang melewatinya.

“Mungkin ia PSK” ujar pria tersebut dalam hatinya. Kemudian ia kembali ke hotel.

Pukul 20.00 WIB. Ia keluar untuk mencari makan malam. Ia terkejut masih melihat wanita yang sama di seberang jalan. Dengan posisi yang tidak berubah, dandanan yang terap fresh, serta sebatang rokok yang setia menemani setiap tebaran senyumnya.

Pukul 22.00 WIB. Ia telah kembali dari berburu kuliner. Cepat-cepat ingin kembali ke hotel karena esok dini hari ia harus segera hengkang dari hotel. Pesawat yang akan ia tunggangi akan melesat tepat pukul 03.00 WIB.

Berjalan terburu-buru, sempat menoleh keseberang jalan dan berhenti karena heran. Apa yang ia lihat beberapa waktu lalu, detik ini ia juga melihat hal yang sama. Seorang wanita, dengan dandanan fresh, sebatang rokok sambil menebar senyuman.

Sadar dari keheranannya ia segera melanjutkan perjalanan ke hotel.
“Jreeeng.. jreeeng..” alarm pukul 02.00 WIB. Berbunyi, tanda ia harus segera berangkat agar tidak tertinggal pesawat.

Keluar dari hotel keheranan pria itu memuncak melihat wanita paruhbaya di seberang jalan yang tak berpindah posisi sedikitpun. Masih memperbaiki dandanannya, sembari menghisap rokok dan tidak lupa untuk terus senyum.

“Ia pasti belum makan, bagaimana kalau kuberikan sedikit uang ini padanya?” Berbagai dugaan hilir mudik di kepalanya. Namun semua dugaan itu ditepis oleh pertimbangan bahwa ia orang baru dan hanya numpang sebentar saja di sebuah hotel yang mungkin tidak akan kesini lagi.

Sepanjang perjalanan menuju bandara ia berpikir. Apa yang menyebabkan wanita paruhbaya tadi sanggup berdiri berjam-jam, menebar senyum tiada henti. Mungkin ia masih akan tetap berdiri hingga matahari terbit esok dan baru kembali kerumahnya setelah jalanan terang.

Hikmah apa yang dapat kita ambil dari cerita singkat di atas? Sudahkan kita menemukan apa faktor yang menyebabkan wanita paruhbaya tadi kuat untuk berdiri dan menebar senyum berjam-jam lamanya?

Pada dasarnya hal yang membuat manusia itu kuat adalah harapan. Begitu juga dengan wanita paruhbaya itu. Ia kuat karena setiap detiknya, setiap senyuman yang dilontarkan ada yang tertarik dan mengajaknya kencan. Ada yang tergoda dan mengajaknya jalan. Setiap pergantian waktu harapan itu terus muncul dikepalanya sehingga ia terus berusaha mewujudkan harapan itu.

Mungkin tidak hanya hari itu saja, hari sebelum itu. Bisa jadi minggu, bulan, tahun, atau puluhan tahun lamanya ia melaksankan kegiatan itu dengan bermodalkan harapan yang sama.

Pertanyaan selanjutnya, apakah wanita paruhbaya tersebut akan berhenti jika malam itu tidak ada yang menghampirinya dan mengajaknya kencan? Tentu tidak, dikemudian hari ia akan terus coba lagi, coba lagi, dan coba lagi hingga waktu yang tak ditentukan.

Contoh lain bisa kita lihat dari nelayan. Seorang nelayan yang berhari-hari di laut, ketika kembali harapannya memperoleh ikan tidak tercapai akankah ia berhenti ke laut dan tidak lagi menjadi seorang nelayan? Tidak, tentu tidak. Karena ia akan kembali esok, esok, hingga waktu yang tidak ditentukan juga.

Jika kekuatan harapan mampu menepis lelah, letih, juga lesu seperti PSK paruhbaya yang berharap akan ada yang mengajaknya kencan. Atau seperti nelayan yang berharap akan keadaan agar esok ia bisa memperoleh banyak ikan. Maka teruslah berharap. Namun jangan letakkan harapan kepada manusia ataupun keadaan. Sandarkanlah harapan kepada-Nya Yang Maha Memberi. Allah SWT.


NOTE:

Tulisan ini dibuat agar menjadi bahan introspeksi penulis secara pribadi dan seluruh pembaca secara umum. Semoga bermanfaat. Terimakasih. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *