[Mutiara Hikmah #1] Belajar dari Tukang Parkir

Profesi sebagai seorang tukang parkir kerap dipandang sebelah mata dan menjadi ladang pungutan liar. Hal itu disebabkan karena untuk menggeluti profesi ini tidak memerlukan modal yang banyak hanya bermodalkan peluit, rompi berwana menocolok (oren atau hijau terang), sebuah topi untuk melindungi wajah dari sengatan matahari, dan lahan parkir. Selain itu bisa dilakukan oleh siapa saja, remaja, dewasa, bahkan orang tua saat ini juga tidak jarang ditemukan perempuan menjadi tukang parkir. Oleh karena itu banyak tukang parkir dadakan yang ada pada lokasi destinasi wisata yang berujung pada pungutan liar atau dikenal dengan istilah pungli, tidak jarang pula terjadi pemaksaan untuk memberikan uang parkir, jika hal itu terjadi maka tindakan tersebut telah melanggap peraturan yang tertera dalam pasal 368 ayat (1) KUHP.

Terlepas dari itu semua ada hal unik yang mungkin dapat kita ambil ibrahnya dari seorang tukang parkir. Pepatah minang mengatakan “alam takambang jadi guru”, artinya alam yang luas terbentang ini bisa menjadi guru tempat kita belajar. Makna alam disini juga termasuk lingkungan disekitar kita dan seluruh kejadian yang ada disekeliling kita.

Apa yang dapat kita pelajari dari seorang tukang parkir? Seorang tukang parkir tidak pernah sombong ataupun angkuh ketika memiliki deretan mobil dengan berbagai merek. Setelah mobil tersebut satu persatu pergi meninggalkan tukang parkir, ia tidak pula sedih dengan keadaan tersebut karena ia tahu bahwa itu semua adalah titipan dan titipan tersebut harus dijaga dengan sebaik-baik mungkin. Jangan sampai terjadi apa-apa dengan barang titipas tersebut karena akan berat mempertanggung jawabkannya.

Semua yang ada di dunia ini adalah titipan. Ya, semua yang kita miliki juga adalah titipan. Keluarga, harta benda, kekayaan, tahta, jabatan, pangkat, dan lain sebagainya semua adalah titipan. Sebagai manusia yang diberi amanah akan titipan tersebut tentu kita harus menjaganya sebaik mungkin. Karena kelak akan diminta pertanggung jawaban akan semua yang kita lakukan.

Setelah menyadari bahwa semua ini adalah titipan, maka ketika kita memiliki uang berlipat, rumah bertingkat, isteri empat (:v wkwk full kuota), dan deretan mobil mengkilat kita tidak sombong dan lupa diri. Agar ketika itu semua ditarik oleh sang pemiliknya kita tidak lagi sedih terpuruk, meratap, menangis meraung-raung melainkan harus ikhlas, qana’ah, menerima apa adanya.

Menjaga barang titipan juga harus dengan senang hati. Karena ketika menitipkan barang dalam keadaan bagus dan kembalipun harus dalam keadaan bagus pula. Jangan malah terbalik, ketika dititipkan bagus kembalinya sudah compang-camping, lecet sani-sini, pacah kacanya, yang parahnya lagi hingga tidak bisa dipergunakan lagi. Esok hari tidak akan ada lagi yang akan menitipkan barangnya.

Hutan luas di bakar, laut indah dicemari, tebing berbaris dikikis, macam-macamlah ulah tangan manusia yang kita lihat, tidak menjaga apa yang dititipkan kepadanya. Oleh karena itu, jika terlupa marilah diingatkan, jika terlewat marilah kembali, jika terlamun marilah disadarkan. Hidup hanya sementara sesali apa yang telah dilakukan, susun langkah baru untuk menata perubahan. Masih banyak barang titipan yang kita miliki, marilah kita jaga dan rawat sebaik mungkin hingga Yang Maha Memiliki mengambil kembali apa yang telah ia titipkan kepada kita.


 

NOTE:

Tulisan ini dibuat untuk mengingatkan diri penulis sacara pribadi dan pembaca secara umum. Semoga bermanfaat. Terimakasih. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *