[Balerong #7] PESAN AYAH UNTUK ANAK PEREMPUAN : RAHASIA LAKI-LAKI

Klik link disini untuk baca tulisan sebelumnya

Sebagai seorang pemimpin suami wajib dimuliakan, wibawanya dipelihara, kebijaksanaannya ditaati. Barulah terlihat kepemimpinan seorang suami. Sebagai manusia dia pasti tidak sempurna, ada kekurangan di samping adanya kelebihan. Untuk itu, istri yang arif dan bijaksana pandai bersyukur dengan apa yang ada serta siap menerima kekurangan sang suami. Harus ikhlas, sabar, dan rela juga berusaha menutup kekurangan tersebut. Sudah termasuk sifat tidak terpuji nak jika membuka-buka kekurangan suami nak, baik yang lahir berupa materil apalagi yang batin secara moril.

Sebaliknya nak, jangan pula membangga-banggakan suami, memuji berterus-terusan, menceritakan suami itu orangnya gagah, setia, serta hebat. Jangan nak! Jangan. Akan jadi bahan pergunjingan orang nantinya.

Nak, adapun dalam menjalani kehidupan tidak ubahnya ibarat berlayar di lautan. Adakalanya air tenang, matahari bersinar, hujan teduh, kabutpun terang, tertawa bahagia jurumudi membawa kapal ke arah jarum kompas. Namun terkadang nak, ada juga masanya badai datang, laut menggila, gelap sekeliling, airpun masuk ke dalam kapal, dan mati-matian berjuang nahkodanya. Itulah romantika nak, itulah perjuangan, malah disitu pula letaknya seni dalam hidup. Sehingga dunia ini terasa indah.

Jika menang Alhandulillah. Namun jika kalah diulang kembali perang, tidak hari ini mungkin esok. Sebab, kegagalan adalah kemenangan yang tertunda.

Sudah nak? Ayah lanjutkan. Kalaulah takdir pasang surut. Datang malang cobaan menghampiri, tergoncang jalan kapal. Sampailah kepada istri yang tidak setia ia melompat ke sikoci (perahu kecil yang ada di kapal). Tinggal kapal dan muatan, istri mendayung seorang diri, selamat dari karamnya kapal besi. Namun jika bertemu dengan istri orang budiman. Tidak pemanik hilang akal, tidak mudah berputus asa, malah jika keadaan yang memaksa, cepat-cepat ambil kemudi berusaha bersama-sama jangan sampai karam kapal dengan penumpangnya.

Menurut pengalaman nak, mungkin datang masanya nanti nasib suami sedang kabur. Semakin diasah semakin tumpul. Semakin dibersihkan semakin rimbun. Jika ia seorang pedagang, dagangannya habis hutangnya bertumpuk. Jika ia pegawai profesi, mungkin ia memiliki masalah dengan atasan atau malah di PHK. Jika ia seorang petani, sawah habis di rendam banjir, panen gagal, harga jatuh, tikus banyak yang akan menggerogoti. Pendeknya, bermacamlah musim yang akan menimpa.

Masa disaat seperti itu nak, jadilah engkau istri penawar. Bujuk hatinya dalam risau, hibur ia, berikan kata harapan, bangkitkan semangat juangnya, kipas hatinya agar dingin. Jika kandas semangatnya agak berlarut mati akal, cepat-cepat turun tangan nak, berusaha apa yang mungkin asal halal dan jalan lurus. Jangan malu menerima upah, jangan gengsi di kaki lima, yang penting dapur berasap setia jangan sumbing kepada suami.

Umumnya orang berpendapat,sepanjang kehidupan laki-laki akan mengalami gejolak jiwa dua kali seumur hidup. Sebanyak itu pula terguncang teluk insannya dihempas gelombang nafsu. Itulah zaman pancaroba, puber istilah populernya. Ibarat daya tenaga listrik saat-saat tegangan tinggi adalah ketika _spanning_ naik. Kalaulah tampa adaptor, sekring bisa putus trafo terbakar, neon padam, televisi hangus, dan kulkas tidak dingin lagi.

Kapan masa itu nak? Pertama, sesudah baligh sekitar umur 16 tahun. Kedua, menjelang umur 40 tahun. Itulah masa-masa rawan atau tahun berbahaya bagi seorang laki-laki.

Pada puber yang pertama terjadi perubahan fisik. Suara yang semakin besar, kumis mulai kelihatan, dan badannya mulai berbentuk. Begitupula gejala jiwa, mulai memperhatikan penampilan dan suka berbicara dengan lawan jenis. Lain-lain sifatnya, ada yang pendiam namun matanya memperhatikan, kadang tersenyum. Ada juga yang lasak, anak gadis lewat diteriaki. Ada pula yang gila mencari perhatian, bertingkah yang ganjil-ganjil, kadang meresahkan perangainya. Pendeknya, bermacam-macamlah sifat laki-laki jika dalam masa puber pertama tersebut.

Jika dibandingkan dengan masa puber kedua, puber pertama masih lumayan. Berbahaya memang, tapi kurang daya ledaknya. Ya, paling-paling membaca novel buku romantis, menonton video _blue_ film, atau penghayal pengangan-angan melihat foto pacar dan bersudah di kamar mandi. Heh selesai (ayah tertawa sinis).

Tetapi, puber di umur 40 rusak dan merusak nak. Coba bayangkan seorang laki-laki yang sedang matang, punya 15 tahun jam terbang dengan segudang pengalaman soal wanita. Keluar kandang mencari mangsa nak. Ia gelisah tinggal di rumah, dengan uang royal namun di rumah pelit, anak istri soal belakang berburu perempuan nomor satu. Biasanya diumur segitu orang telah mencapai puncak dikarirnya nak. Kalaupun tidak menjadi bos, paling tidak ia telah mapan diprofesinya dan matang di bidang keuangan. Apalagi didukung dengan kondisi mental yang mantap terkendali.

Tapi ingat, disini pulalah datangnya _testing_ jiwa. _Testing_ jiwa yang hanya sedikit orang yang lulus. Bagi yang kurang persiapan, membawa runtuh harga diri malapetaka rumah tangga. Apa sebenarnya yang terjadi?

Pada saat itu yang terjadi adalah pemberontakan bathin yang meledak-ledak nak. Selalu menuntut penyaluran biologis. Aneh memang, dia keluar mencari penyaluran sementara di rumahnya tergolek pipa penyaluran yang siap menanti air terjun. Itulah yang namanya nafsu, nafsu yang lebih ganas daripada perang badar. Begitulah Rasulullah mengatakan.

Macam-macam perangainya nak. Ada yang keluar pergi ke tempat gelap, diskotik jadi sasaran. Ada pula yang mengincar dan mengumpulkan mangsa anak sekolah. Parahnya ada yang sampai mengganggu rumah tangga orang. Mungkin ia pandai menyembunyikan, namun perasaan dan insting perempuan tidak mudah untuk dikelabuhi, ujung-ujungnya ketahuan. Jika terlalu jauh terpaksalah suami pasang dua. Satu sungai berujung ke dua muara, bagaikan kisah drama nak, sedih akhirnya.

Nak, guna ayah buka ayah perlihatkan rahasia laki-laki agar engkau berhati-hati nak. Besok tidak terlalu terkejut. Sebab siapapun suami kita, biar intelek terpelajar, preman tuak, da’i pendakwah, seniman, ataupun tukang berduit atau mati pajak jarang yang tidak dilandanya.

Ibarat mobil nak, ada yang terjun masuk jurang, ada yang terbalik, setidaknya menyerempet tebing, gardan pecah bodi lecet karena tiang listrik yang disenggolnya. Ayah pun merasakanya juga sebagai sebagai seorang laki-laki. Tapi syukurlah, berkat rem yang masih cakram, kopleng yang tidak lepas dari tangan, stir aman mesin mendukung rambu-rambu pun masih teringat. Kalau sekedar tergoncang-goncang nak, goncang ke kanan oleng ke kiri, terlambar menukar gigi, itu ayah rasakan pula. Hehe 😀

Lantas apa yang harus dilakukan nak?

**BERSAMBUNG**

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *